Lintang Waluku

Taksa

Serugi-ruginya pertempuran ialah pertempuran yang tak berpemenang. Lahir dari pusara angin, rasa ini menyengat cakrawala. Telah lama ia nyaman dalam naungan, hingga haus akan pengejaran ia rasakan. Bagai tak tunduk dalam suatu perikatan ia terbang semaunya, hinggap sekenanya, pergi secepatnya.

Laksana Cebolang, laksana Centhini. Mengembara ia—menjajal kebebasan yang tak dihakinya—kepada sebuah jatidiri petualang yang menjadikannya debu pada sabuk asteroid, berevolusi dalam ketidakpastian. Memang pada saatnya di persimpangan ini ia harus memilih mana yang akan dijadikannya sandingan jiwa.

Kusut rasa ini berkutat pada satu simpul mati. Menyayangi yang baru dan mempertahankan yang lama selalu menjadi sengketa bagi setiap sukma yang berniat.

Pada gerbang asmaragama di mana jiwa menjadi cahaya dan cahaya menjadi lumat dalam kesatuannya—

Pada malam dingin di mana setiap keputusan adalah taksa—

Pada setiap pertukaran budi baik yang telah dibaktikan—

Pada setiap kata sayang yang disampaikan—

(Jakarta, 24 September 2014)