Lintang Waluku

month

August 2012

12 posts

Teaser Perahu Kertas (rough music)

Scoring Perahu Kertas

Aug 30, 20120 notes
Lintang Waluku

Pagi itu, lintang waluku tidak muncul

Terjaga di bawah langit selatan, kami saling menerka

Siapa yang sedang berpikir

Siapa yang sedang merasa

 

Lengan merangkul, jemari membeku

Tangan menggenggam, benak mengembara

Oh batara kala, dunia di atasmu begitu luas

Namun mengapa hanya dia yang kutahu betul?

 

Berbisik lirih, khayalan masa kecil

Pulau terpencil, peta harta karun

Lempar pandang sembunyi mata

Menggapai udara, tanya lebih tinggi!

 

Mengapa permainan perlu dimenangkan?

Ketar-ketir pengecut peran sosial

Emulsi ambisi, oksidasi cita-cita

Ketika dua melawan dunia, baiknya kalah atau mengalah?

 

Wahai cermin, semua ini salahmu

Pantulan kepalsuan, refleksi kepura-puraan

Tersentak, bergeming, percaya

Gara-garamu, kini ku bercermin di matanya

 

Lesaplah wahai rasa

Omong kosong dunia-milik-berdua

Tanah ini milik mereka yang dibenarkan

Ambil saja sisa-sisanya, dunia ide dan mimpi John Lennon

 

Lalu kami menghilang dalam tata nilai

Lengan merangkul, perlambang keakraban

Tangan menggenggam, sebatas penghangat

Peluk sedikit, namanya juga teman

 

Cinta memang milik mereka yang menang

Selamanya, putusan bersalah untuk yang kalah

Ini, kenakan borgolmu sendiri

Selamat datang, pendosa

 

Ketidakberartian, perkenalkan ini sahabatmu

Lempari dirinya batu-batu kebencian

Gantung lehernya di tiang ketakutan

Bidik hatinya dengan senapan prasangka

 

Oh Jayabaya, telah kau ramalkankah nestapa ini?

 

Karena pagi itu, lintang waluku tidak muncul

Terjaga di bawah langit selatan, kami saling tuduh

Siapa yang kuat, pahit betul rasanya kejujuran

Siapa yang lemah, tata nilai bersulang merayakannya

 

(Jakarta tidak pernah lebih sinis, 26 Agustus 2012)

Aug 26, 20121 note
#Poem #Bagian Satu
Sedikit tentang Hari Bebas Bully dan Guru Konseling

Sebenernya gue masih sebel sama Lili. Dulu dia mau bantuin gue bikin workshop anti-bullying di SMA kami, tapi handphone-nya suka mati tiba-tiba jadi gue mesti ekstra sabar kalo ngajak dia rapat. Walhasil kami memang nggak jadi ngadain workshop di SMA tercinta (nanti akan gue jelaskan mengapa). Tapi malam ini Lili mohon maaf lahir batin, jadi gue maafkan deh.

Dan gue kembali teringat setahun lalu ketika kami berdua datang ke SMA tercinta membawa proposal Hari Bebas Bully, sebuah workshop anti-bullying yang kami inisiasi KHUSUS untuk diadakan di SMA tercinta karena kami paham di SMA tercinta telah dan sedang terjadi bullying (sistemik) dan kami merasa perlu memberi pandangan baru kepada murid-murid SMA tercinta, adik-adik kami tercinta, tentang bahaya dan tidak bergunanya bullying bagi kehidupan sekolah.

Tapi yang terjadi adalah: kami berakhir di ruang wakil kepala sekolah, membicarakan hal-hal yang sebelumnya kami kira nggak akan begitu eksplisit. Uang. Ya. Singkat cerita kami boleh mengadakan workshop anti-bullying asalkan kami membayar charge yang dikenakan. Kebetulan saat itu SMA tercinta sedang ada event besar, pameran, yang mengundang alumni dan institusi-institusi pendidikan. Jika memang charge sebesar itu (tujuh angka nol) dikarenakan acara kami digabung dalam pameran, kami meminta untuk memisahkannya saja di hari biasa, di hari di mana memang tidak ada kegiatan apa-apa sehingga kami tidak perlu memasang spanduk dan menyewa tenda, cukup pakai ruang audiovisual seperti biasa.

Tetapi pihak sekolah tetap mengenakan charge dengan nominal yang sama. Alasannya adalah karena kami berada di bawah naungan program dari organisasi nonpemerintah (ornop) Amerika Serikat, which was Global Citizen Corps.

This.

Sebenernya kalo gue dan Lili mau negosiasi lebih gencar lagi, mungkin biaya yang harus kami keluarkan bisa ditekan lebih rendah. Tapi, sampai di titik itu, gue tiba-tiba langsung turned off sama semuanya. Turned off sama tabiat bayar-membayar. Kok logikanya jadi kebalik begini? Padahal kami yang bikin workshop. Kami yang capek-capek nyiapin semuanya. Yang kami butuh dari sekolah cuma ruang audiovisual sama murid-muridnya sebagai peserta. Ya wajarlah kalo kami harus bayar uang kebersihan, keamanan. Uang sewa ruangan udah mulai aneh, tapi yah masih bisa ditolerir. Tapi kalo charge sampe tujuh-angka-nol? Sampe di sini gue ngerasa udah kehilangan esensi dari antibullying itu sendiri. Padahal niat gue cukup baik. Gue mau sharing ilmu, mau ngajak mereka untuk berpikir dari perspektif yang baru tentang bullying, untuk ngajak mereka bergerak melawan bullying sistemik. Memang nggak mudah. Dan sayang sekali ketidakmudahan itu justru berawal dari birokrasi sekolahnya sendiri.

Masih di halte depan SMA tercinta. Gue dan Lili duduk. Hape gue basah abis kecebur (diceburin) ke parit sama Lili. Kesel banget. Haha. Gak gue maafin tujuh turunan, pikir gue waktu itu. Di saat itulah gue memutuskan untuk nggak nerusin proposal gue ke sekolah. Ngapain? Kalo ujung-ujungnya gue harus ngeluarin duit? Bullshit. Ini kan proyek idealis. Masa gue ‘diperas’? Akhirnya kami memutuskan untuk bikin workshop anti-bullying di kantor Mercy Corps Indonesia aja. Jelas, gratis. Kami tetep ngundang beberapa anak dari SMA tercinta, khususnya anak KIR-nya, karena gue deket sama mereka hehe. Dan gue nggak pungut biaya. Workshop gratis!

Itulah workshop Hari Bebas Bully pertama yang kami adakan. Walhasil, Hari Bebas Bully kedua, ketiga, keempat, dan kelima berlangsung dengan lancar di berbagai lokasi. Di Pulau Pramuka, di Bogor, di pesantren Depok, di sekolah anak jalanan. Nggak satupun dari tempat itu yang minta uang administrasi, charge, atau apalah. Dan justru melalui perjalanan workshop itu gue menemukan esensi sharing ilmu dan encouragement yang sesungguhnya. Temen-temen gue yang ada di tim Hari Bebas Bully (disingkat jadi HABIBI) jadi semakin solid dan concern ke isu bullying more than ever. Kami kerja memang nggak dibayar. Tapi kami happy. Tapi kami ngerasa terisi secara mental, secara moral.

Ngomong-ngomong, di workshop Hari Bebas Bully yang terakhir kami malah dapet ‘ongkos balik’ hehehe.

Anyway, info lebih detail tentang proyek Hari Bebas Bully bisa dibaca di sini.

Kembali ke inti masalah yang sebenernya pengen gue ketengahkan, yakni bahwa gue sangat menyayangkan kenapa SMA tercinta harus mematok charge untuk workshop anti-bullying kami. Sedih aja. Padahal sebenarnya Hari Bebas Bully itu cuma pengen gue adakan sekali. Dan itu cuma di SMA tercinta. Karena gue dan Lili sama-sama paham di SMA kami tercinta itu telah dan sedang terjadi bullying sistemik. Menurut kami ini adalah langkah lain selain mengintervensi. Dulu gue juga jadi bagian dalam bullying sistemik itu. Namanya sistemnya briefing. Isinya? Marah-marahin ‘junior’ dalam rangka kaderisasi, penguatan mental. Tapi yang terjadi adalah cekakak-cekikik. Dan sekarang gue nyesel pernah melakukan itu. Kelompok Ilmiah Remaja yang pernah kami pimpin bersama seharusnya bisa MAJU LEBIH JAUH tanpa brifing. Bisa bikin lebih banyak karya ilmiah. Bisa ikut lebih banyak forum ilmiah, lomba karya tulis, bikin terobosan ilmiah, membuktikan ke pihak sekolah kalau bukan cuma robotik aja yang perlu diperhatikan.

Anyway. Beginilah kenyataannya. Bullying di sekolah terjadi. Bagaimana dengan peran bagian konseling? Peran guru BK? Well, berikut ini adalah pandangan gue sebagai orang yang pernah sekolah di SMA tercinta selama tiga tahun. Berikut adalah pandangan gue mengenai fasilitas konseling di sana: gue nggak merasakan manfaat berarti. Ya, mungkin ini adalah pendapat subjektif dari gue seorang ya. Tetapi gue bener-bener nggak merasakan peran konseling dalam mengatasi bullying.

Kembali ke hari ketika gue dan Lili mem-propose workshop anti-bullying. Seorang guru BK ngobrol dengan kami. Dari intensi yang ia berikan, gue dapat menerima kesan bahwa menurutnya workshop anti-bullying itu… yah… nggak penting-penting amat. Ia cerita kalau beberapa hari yang lalu ia baru saja memarahi beberapa anak yang ketahuan melakukan briefing secara berlebihan (yah, briefing biasa aja udah termasuk bullying, apalagi briefing-secara-berlebihan). Intinya, gue menangkap kesan bahwa ia berusaha bilang “udah lah sebenernya nggak penting-penting banget ngajarin anti-bullying itu. Pihak sekolah udah ngerti kok. Jangan dikira kami nggak tau ya. Kami bisa atasi kok.”

Yah. Kembali lagi ini sudut pandang paling subjektif dari gue. Tapi itulah yang gue tangkap. Dan ITU sangat gue sayangkan karena selama tiga tahun di SMA tercinta, gue berurusan dengan BK itu pasti karena masalah akademis. Nggak pernah karena urusan bullying dan lainnya. Kali pertama gue dipanggil guru BK adalah karena dari 14 mata pelajaran, gue remed 12. Urusan lainnya gue ada di ruang BK adalah karena gue terlambat lebih dari 2 kali, kemudian karena ngurusin SNMPTN Undangan yang ujung-ujungnya gue gak dapet (haha).

Entahlah. Gue tau ini terdengar cengeng dan manja, tapi gue nggak ngerasa BK berperan dalam intervensi kasus bullying yang terjadi di sekolah, baik yang sistemik maupun yang tidak. Kasarnya, di mana mereka waktu gue di-bully, waktu temen gue yang berkebutuhan khusus di-bully? Pff… mungkin memang bener kalau guru nggak akan tahu kalo kita nggak cerita ke mereka. Tapi gimana gue mau cerita kalau di ruang bimbingan konseling gue selalu merasa dihakimi? Gimana kalo ruang konseling selalu jadi tempat gue dikomplain tentang pencapaian akademis? Atau tempat ketika gue diintimidasi karena telat, atau nggak bawa ikat pinggang?

Gue sedih kenapa lembaga konseling di SMA nggak berperan sebagaimana seharusnya :(

Mungkin nggak seharusnya gue membanding-bandingkan. Tapi gue pengen cerita tentang guru konseling di SMP gue. Dan gue selalu tersenyum setiap kali inget ibu yang satu ini. Belum menikah, belum punya anak, tetapi karena kami respect, kami harus panggil Ibu. SMP gue waktu itu pake sistem moving class, jadi setiap mata pelajaran punya ruang kelas sendiri. Pelajaran Bimbingan Konseling (yang sebenernya bukan pelajaran) digabung sama pelajaran muatan lokal PLKJ (Pengetahuan Lingkungan Kehidupan Jakarta, yeay masih hafal!). Jadilah ibu ini punya ruangan kelas sendiri.

Dan sang ibu mengisi kelasnya secerdas mungkin. Di samping meja guru ada rak buku yang isinya bukan cuma Al-Quran yang ketinggalan, tapi juga tumpukan buku-buku biografi populer dan buku motivasi. Satu hal yang gue inget adalah, si ibu pernah membahas tentang Oprah Winfrey dan si ibu bilang ia punya buku tentang oprah di lemarinya. Jadilah suatu hari, ketika kelas kosong, gue masuk ke ruangan itu dan minjem bukunya. Gue baca sampe abis. Nggak gue temukan di kelas-kelas lain lemari buku ‘sekaya’ ini.

Si ibu juga pernah cerita tentang seorang bayi yang tuna rungu. Apakah bayi itu harus dibunuh sejak dalam kandungan untuk menghindarinya dari penderitaan seumur hidup, atau tetap dibiarkan saja lahir dengan normal dan tumbuh besar? Seorang temen perempuan berpendapat bahwa lebih baik dibunuh sejak dalam kandungan, daripada menderita. Ternyata si ibu punya pendapat yang berlawanan. Lahirkan dengan normal. Dan dia, si anak tuna rungu yang dimaksud si ibu, sebenarnya adalah Beethoven.

Diam-diam gue mengagumi cara ibu ini mengajar. Juga termasuk ketika ibu ini membela kami yang kena marah wali kelas karena kabur demi untuk nonton Alix Cup. Kabur dari sekolah. Hal paling nakal yang pernah gue lakukan waktu SMP dan gue kapok kapok kapok mau jadi anak baik-baik aja. Bzz anyway…

Tetapi dari semua hal, ada satu momen yang membuat gue nggak akan lupa dengan ibu ini. Suatu ketika gue berjalan menuju ke ruang guru, mau nyerahin PR kalo nggak salah. Atau ngambil handphone yang gue titipin ke wali kelas, kalo nggak salah lagi. Ya waktu itu peraturannya adalah handphone harus dikumpulin ke wali kelas dari pagi, pulang baru diambil.

Ya intinya gue lagi jalan ke ruang guru lewat koridor yang cukup lebar. Dua meter deh. Gue jalan biasa, gue merasa jalan seperti biasa. Gue semakin dekat ke ruang guru. Si ibu keluar dari ruang guru, berjalan berlawanan dengan gue. Ketika berpapasan, si ibu berkata (dan ini yang nggak akan gue lupa sampe sekarang), “Gomat, jalanan luas begini kenapa kamu jalan di pinggir?”

Gue nggak akan lupa. Nggak akan lupa. Pertanyaan itu terus ada di kepala gue. Mungkin udah empat atau lima tahun sejak kejadian itu, gue masih belum menemukan kosakata yang pas untuk menjawab pertanyaan itu. Kenapa gue jalan di pinggir? Kenapa gue mengalienasi diri sendiri? Apa yang gue takutkan? Kenapa gue nggak berani jalan di tengah? Kenapa gue yang harus mengalah, menyediakan tempat bagi orang lain? Apakah gue malu? Apakah gue merasa lemah?

Sampai detik ini pertanyaan itu masih menempel lekat di kepala gue. Suatu hari mungkin gue akan bikin cerita fiksi yang terinspirasi dari pertanyaan itu, atau, entahlah. Yang pasti sejak saat itu gue berusaha untuk lebih yakin sama diri gue sendiri. Ini nggak cuma tentang kebiasaan gue yang jalan melipir ke tembok. Ini jauh lebih dalam dari itu. Ini tentang KENAPA gue bisa lebih nyaman untuk berada di pinggir, kenapa gue lebih suka berada di samping tembok yang kokoh dibanding berjalan di tengah-tengah?

Terima kasih, ibu guru BK SMP. Anda membuat saya berpikir. Saya, dan mungkin semua anak yang mengalami dilema seperti saya; mengalami bullying; mengalami diskriminasi; mengalami kebutuhan khusus, perlu memiliki guru konseling seperti Anda.

Dan gue berjanji. Sejak hari itu, gue nggak mau jalan melipir ke tembok. Gue bisa kok jalan di tengah kalau gue mau.

Maka dari itu, guru konseling yang baik, menurut gue, adalah guru yang mampu memantik percik pemikiran di dalam kepala anak didiknya. Pemantik yang ibu guru BK SMP berikan kepada gue di hari itu di koridor adalah pemantik yang kuat. Lagi-lagi gue harus bilang kalau gue nggak akan lupa sampai kapanpun. I will never ever do.

Aug 21, 20120 notes
Bagian Satu #5

(Previous)

Ketika sekop pertama dihujamkan ke tanah, tidak ada satupun dari kami yang berani bersurara. Semua memandang lamat-lamat ke dua pekerja yang mulai menggali dan terus menggali. Sebuah pohon beringin tua menaungi kami, menaungi rasa penasaran kami, menaungi pesan sejarah yang terkubur di bawah lapisan tanah, menanti untuk diangkat pada hari yang telah ditentukan.

Sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan pemerintah Hindia Belanda di awal abad ke-20, pendidikan dasar berbasis Europeesche Lagere School harus ditempuh selama 7 tahun. Hitung-hitungan sederhana. ELS Moentilan membuka kelas pada tahun 1905. Dengan demikian, murid-murid ELS Moentilan angkatan pertama lulus pada tahun 1912.

Berangkat dari cita-cita Helene van Rees dan suaminya Raden Soerdjadikromo untuk menghadiahi sekolah mereka kenangan yang mampu dijadikan pelajaran untuk masa depan—cita-cita yang dihiasi rangkaian bunga cinta kasih—mereka meminta setiap anak yang hendak mengambil rapor kelulusan untuk membawa benda kesukaan mereka.

Ieder van ons geeft een erfenis door aan de volgende generatie. Masing-masing dari kita memberi warisan kepada generasi berikutnya, begitu kata Helene van Rees ketika itu. Meski Robert sering mengganggu Katmo, meski Sri dan Mieke tidak bisa dibuat sebangku, meski A Yin enggan berbagi makan siang, Helene tahu dalam tujuh tahun pengajaran ia dapat mengubah keadaan. Dan itu terjadi. Setelah tujuh tahun bersama, mereka menjadi sahabat hidup, sahabat belajar, sahabat mengenal dunia. Batas-batas warna kulit tidak berlaku di ruang kelas, batas-batas kekuasaan menjadi khayalan semu.

Dan hari yang ditunggu tiba. Hari kelulusan. Semua anak berkumpul di bawah pohon beringin di pekarangan belakang, mengelilingi liang tanah yang baru digali oleh Pieter. Masing-masing dari mereka telah membawa benda yang direlakan. Hari itu, mereka membungkus manis sejarah kemanusiaan.

Hari ini, kami membongkarnya seperti kado ulang tahun. Sebuah batu pipih telah disingkirkan dari tanah. Di atas batu berwarna hitam itu, berukir tulisan:

 

OP DEZE DAG,

10 JULI 1912,

BEGROEVEN WIJ VRIJWILLIG DEZE DOOS MET SPULLEN

OM ONZE EERSTE ALUMNI TE VIEREN

EN HEDENDAAGSE EN TOEKOMSTIGE STUDENTEN

EN DOCENTEN TE EREN.

MOGEN ZIJ DIE NA ONS KOMEN

DEZE DOOS OPENEN OP 10 JULI 2012

EN ONS HERINNEREN, EVENALS ONZE GENEGENHEID

VOOR DEZE PLAATS EN DE MENSHEID.

 

EUROPEESCHE LAGERE SCHOOL MOENTILAN

 

Pada hari ini, 10 Juli 1912, kami mengubur dengan sukarela sebuah kotak berisi benda-benda dalam rangka merayakan kelulusan alumni pertama kami dan menghormati guru serta murid saat ini dan di masa yang akan datang. Semoga mereka yang hadir setelah kami dapat membuka kotak ini pada 10 Juli 2012, sembari mengingat keberadaan dan kasih sayang kami terhadap tempat ini dan kemanusiaan. Sekolah Dasar Eropa Moentilan.

Kedua pekerja masih terus menggali. Aku berdiri merapat ke batang pohon beringin. Akar-akar gantungnya berjuntai sejengkal di atas kepala kami. Suasana masih sunyi. Bisikan terdengar sayup, bunyi klik dari kamera-kamera jurnalis mengisi kekosongan penuh rasa penasaran.

Ketika Helene van Rees mewariskan buku hariannya kepada Jasmijn muda di hari-hari terakhir hidupnya, Jasmijn tidak pernah tahu akan ada satu tugas yang harus ia emban. Tidak sampai ketika ia membaca halaman-halaman yang diisi Helene di tahun 1912, bahwa ia dan suaminya menghubur de doos van hoop di pekarangan belakang sekolah. Setelah cukup lama memberanikan diri, Jasmijn Oosterheerd kembali ke Muntilan dan mencari lokasi penguburan kotak harapan. Pada dasarnya ELS Moentilan tidak pernah tersentuh oleh sejarah, sehingga ketika ia menemukan batu pertanda di bawah pohon beringin, tidak ada satupun yang berubah. Hanya tanaman rambat dan semak belukar yang berani menjamah ELS Moentilan. Namun kini, ELS Moentilan dimiliki semua orang, dimiliki kemanusiaan.

Satu abad bukanlah waktu yang sebentar. Dalam rentang waktu selama itu, berapa generasi sudah terlahir? Berapa kali revolusi terjadi? Berapa perang dimulai dan usai? Berapa kapal tenggelam? Berapa negara sudah merdeka?

Kupandangi Mevrouw Oosterheerd yang berdiri bersedekap di seberangku. Wajahnya melambangkan perpaduan antara rasa cemas dan kelegaan. Dapat kubayangkan bagaimana tugas mulia ini telah hampir selesai diembannya. Mevrouw Oosterheerd telah berhasil menjaga agar kotak harapan—si kapsul waktu yang telah mengundang puluhan peneliti LIPI, arkeolog, orang asing, petugas dinas purba kala, penduduk Muntilan, pemerintah, dan jurnalis sepertiku—dapat dibuka pada saat yang seharusnya. Mulai saat ini, sejarah tidak akan lupa. Aku menjadi saksi.

Napasku tertahan ketika sekop penggali menghantam sesuatu sehingga menimbulkan bunyi berdenting. Kotak logam. Beberapa orang bergerak mendekat, namun barisan pramuka menahan mereka untuk tetap di lingkaran.

Seorang pekerja masuk ke dalam liang, seorang lagi menunggu di atas. Ini seperti penggalian harta karun. Pekerja yang ada di dalam tanah meminta bantuan, sehingga temannya masuk. Beberapa pemuda pramuka bersiaga di mulut liang. Tak lama sebuah kotak menyembul, disapa oleh tangan-tangan sigap pramuka. Deru blitz kamera bersahut-sahutan. Gumaman manusia berdengung di telingaku. Tak lama tepuk tangan terdengar riuh. Mevrouw Oosterheerd mengatupkan kedua tangan di wajahnya, entah menangis, entah menyembunyikan senyum kegembiraan.

Kami bersiap-siap untuk kejutan berikutnya.

(Next)

Aug 17, 20120 notes
Bagian Satu #4

(Previous)

Banyak perubahan terjadi selepas dunia memasuki gerbang abad ke-20. Epidemi kolera yang menyerang Filipina mulai mereda. Fosil Tyrannosaurus rex ditemukan seorang paleontologis di Hell Creek, Montana. Australia menjadi negara persemakmuran. Subway kota New York diresmikan. Patung The Thinker karya pemahat Auguste Rodin dipamerkan di London dan Paris. Cina bergabung dalam Palang Merah Internasional. Mahatma Gandhi mendirikan rumah sakit darurat untuk korban wabah bubonic di Johannesburg. Max Planck memformulasikan teori kuantum. Sully Prudhomme meraih penghargaan Nobel pertama di bidang sastra. Ratu Wilhelmina dari Belanda mengumumkan penerapan politik etis untuk kesejahteraan kaum pribumi di daerah kolonial Hindia Belanda.

Keputusan itu bukannya datang begitu saja seperti jatuhnya buah apel yang memantik teori gravitasi keluar dari benak Isaac Newton. Seorang juris berkebangsaan Belanda bernama Conrad Theodor van Deventer menulis sebuah esai berjudul Een Eereschuld—utang kehormatan—yang dimuat di majalah De Gids. Melalui esai tersebut, van Deventer mengklaim bahwa pembangunan negeri Belanda yang sudah sedemikian mapan—di antaranya kereta api dan bendungan—ternyata diperoleh dari hasil kolonialisasi selama berabad-abad. Sementara itu, kaum pribumi Hindia Belanda hidup dengan kemiskinan dan keterbelakangan yang tak terperikan. Untuk itu, pemerintah Belanda perlu membalas budi kaum pribumi Hindia Belanda.

Politik etis—demikian konsep balas budi itu kemudian dinamakan—dilakukan dengan menyejahterakan pribumi dalam tiga bidang: transmigrasi, imigrasi, dan edukasi. Pada akhirnya, penerapan politik etis memang tidak lepas dari kepentingan politik. Program transmigrasi dan imigrasi mengalami kegagalan. Hanya program edukasi yang membawa sedikit lebih banyak dampak, meski memang pribumi disekolahkan hanya agar ketika lulus nanti mereka dapat dipakai sebagai pekerja rendahan yang mampu membaca, menulis, dan berhitung.

Helene van Rees baru berusia dua puluh tahun. Ijazah kelulusan sekolah keguruan Amsterdam belum lama diterimanya ketika ia ditawari posisi sebagai guru di Batavia. Pelayaran pertama dijalaninya. Kapal uap melewati Laut Mediterania, Terusan Suez, Laut Merah, dan lepas ke Samudera Hindia yang penuh perebutan. Badai dan penyakit laut tidak meruntuhkan semangatnya. Helene menjadi calon guru perempuan satu-satunya setelah seorang calon guru perempuan lain meninggal karena kolera dan harus dibuang ke laut.

Helene tiba di Pelabuhan Tanjung Priok pada suatu pagi yang cerah di tahun 1903. Perempuan muda ini terkagum-kagum dengan segala hal: aroma laut tropis yang menyengat; iklim pesisir yang panas; hiruk-pikuk pelabuhan; orang-orang Jawa, Tionghoa, Bugis, Bali, semua dengan pakaian kebangsaan masing-masing; kanal-kanal Batavia yang diadaptasi dari sistem kanal Amsterdam; buah-buahan tropis dan kejenakaan anak-anak pribumi. Hingga pada akhirnya Helene ditempatkan pada sebuah sekolah dasar dan menyadari betapa pendidikan bagi anak-anak kulit berwarna adalah sesuatu yang sangat langka, sebuah fakta yang menyedihkan sekaligus menyulut semangatnya.

Suatu ketika ia menerima surat yang diantarkan langsung dari kantor Gubernur Jenderal J. B. van Heutsz. Helene mengetahui bahwa van Heutsz ialah mantan komando militer yang baru memenangi Perang Aceh, baru saja diangkat menjadi gubernur jenderal. Hal itu membuat Helene bergidik. Ia tidak ingin dilibatkan dalam dunia kemiliteran. Namun surat itu tak lain adalah instruksi pemindahan Helene ke sebuah kota terpencil di pedalaman Jawa. Ia terbelalak ketika membaca posisi yang ditugaskan—bukan ditawarkan—kepadanya: kepala sekolah!

Maka tibalah Helene di Muntilan, sebuah kota kecil yang dilintasi rel kereta api dari kota keraton Yogyakarta ke Magelang. Hanya ada sawah, perkebunan tebu, pohon kelapa, hutan jati dan beringin, sungai, jembatan gantung, orang-orang Jawa, sekolah Katolik asuhan Pastor Van Lith, dan pemukiman Belanda. Lebih dari itu, Muntilan adalah kota sunyi yang dikelilingi oleh Gunung Merapi, Gunung Merbabu, dan Pegunungan Menoreh—tidak jauh letaknya dari sebuah candi raksasa Borobudur yang sedang dipugar.

Pertengahan tahun 1905. Helene van Rees ditempatkan di sebuah sekolah di atas bukit. Bangunannya masih baru. Wangi pelitur tercium dari meja dan kursi yang tertata rapi di ruang kelas. Jendela kaca bening berukuran besar mengizinkan cahaya masuk, terutama ketika Helene membuka tirai di ruang kerjanya, ruang kepala sekolah.

Helene dibantu oleh guru Belanda kelahiran Semarang, Pieter, dan seorang pembantu dari dusun di barat Magelang, Roekijem. Ketika hari pertama tiba, dua puluh anak berbagai bangsa datang, sebagian bersama orang tua mereka. Betapa gembiranya Helene. Anak-anak Belanda, Jawa, Tionghoa, mereka duduk cemas di kelas utama. Tidak lebih tidak kurang, mereka hanyalah anak-anak manusia yang perlu diajari membaca, menulis, dan berhitung. Demikian Helene selalu berpikir.

Meskipun begitu, tidak semua anak kulit berwarna bisa bersekolah di ELS Moentilan. Hanya mereka yang orang tuanya memiliki jabatan tertentu di pemerintahan yang boleh bersekolah.

Tahun 1905 merupakan tahun ajaran pertama di ELS Moentilan. Dua puluhan murid adalah awal yang baik. Sesuai dengan kurikulum yang disepakati, jenjang sekolah dasar berlangsung selama tujuh tahun. Helene dan Pieter mengajar secara bergantian. Helene lebih sering mengajarkan baca tulis dalam bahasa Belanda, sedangkan Pieter ilmu hitung.

Terkadang Roekijem diperbantukan untuk anak-anak Jawa yang mengalami kesulitan karena perbedaan bahasa. Helene tidak dapat berbahasa Jawa. Sebaliknya, Roekijem tidak dapat berbahasa Belanda. Pieter—yang sepanjang hidupnya tidak pernah meninggalkan Hindia Belanda—awalnya menjadi perantara bagi kedua perempuan ini, namun seiring berjalannya waktu Pieter dapat kembali disibukkan dengan urusan ilmu hitung sementara Helene dan Roekijem mulai belajar untuk saling mengerti, meski dengan bahasa tangan sekalipun.

Pengikutsertaan anak-anak pribumi dalam pendidikan formal yang disetarakan dengan anak-anak Belanda ternyata membawa permasalahan sendiri, terutama karena kendala bahasa. Terjadi penurunan pencapaian akademik yang mengecewakan. Dengan demikian pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk membersihkan sekolah-sekolah kolonial dari murid pribumi, mereka ditempatkan di sekolah-sekolah pribumi.

Ketika perintah sampai di ELS Moentilan, Helene dengan tegas menolaknya. Baginya, kastanisasi yang menyebabkan hanya anak pribumi kaya saja yang dapat bersekolah sudah cukup membuatnya miris hati. Suatu pagi setelah duduk bersama Pieter dan Roekijem di ruang kepala sekolah, Helene membuat keputusan. ELS Moentilan harus terbuka untuk semua anak tanpa memandang laki-laki atau perempuan, status ekonomi, status politik, agama, maupun suku bangsa. Lagipula Muntilan adalah kota kecil, perubahan semacam itu bukanlah sesuatu yang menggegerkan, pikir Helene, namun itu adalah langkah besar.

Helene, Pieter, dan Roekijem—yang hanya berstatus sebagai pembantu namun kemudian diangkat menjadi guru bantu sukarela—kewalahan pada tahun-tahun pertama sekolah mereka terbuka untuk umum. Ruangan kelas ternyata tidak cukup. Anak-anak ada yang harus belajar di serambi, di ruang tengah, di pekarangan belakang. Helene mengatur jam sekolah sehingga ada kelas pagi dan kelas siang. Helene meminta tambahan guru bantu dari Batavia, maka dikirimlah seorang lulusan sekolah keguruan Batavia bernama Jan.

Namun ternyata Jan tidak hanya memfungsikan kedatangannya untuk membantu ELS Moentilan, tetapi juga menjadi informan bagi kontrolir Muntilan yang mulai menaruh curiga kepada sekolah dasar itu. Suatu ketika kontrolir Muntilan marah besar ketika tahu bahwa Helene tidak mengusir Pribumi dari sekolahnya. Helene mendapat ancaman pembubaran, tetapi ia bergeming. Kekuatan pendiriannya didukung oleh segenap pengajar—kecuali Jan, tentu saja, karena Helene memberhentikannya segera—murid, dan keluarga mereka. Karena status kewarganegaraan Belanda yang Helene miliki, dan karena surat penugasan Helene yang bertandatangan gubernur jenderal Hindia Belanda sendiri, kontrolir Muntilan tidak dapat berbuat banyak.

Di luar kehidupan sekolah, Helene van Rees bertemu dengan Raden Soerjadikromo, seorang bangsawan dari Yogyakarta. Mereka ingin ELS Moentilan tidak dilupakan. Mereka mempunyai mimpi agar suatu hari nanti, ELS Moentilan—dengan segala keterbukaannya terhadap anak semua bangsa—dapat menjadi percontohan di mana-mana. Pendidikan adalah hal yang paling hakiki untuk memerdekakan manusia. Apalah arti politik etis jika pada akhirnya pendidikan hanya untuk kalangan atas? Adalah sia-sia jika Hindia Belanda punya banyak sekolah namun tidak semua anak dapat mengenyamnya.

Adalah sia-sia jika Hindia Belanda punya banyak sekolah, namun tak ada yang berani memutus rantai penindasan.

Helene dan Raden Soerjadikromo sama-sama memiliki kecintaan terhadap dunia anak-anak dan pendidikan. Lebih dari itu, keduanya memiliki kecintaan terhadap satu sama lain. Seorang guru Belanda dan seorang bangsawan Jawa. Mereka pergi ke gereja pada suatu pagi dan mengikat janji sehidup semati.

Kami  berhenti di situ. Mevrouw Oosterheerd kembali mengisi cangkir tehnya, menunggu jika ada sesuatu yang ingin kutanggapi.

Aku berhenti menulis. Berhenti berpikir. “Apa yang baru saja Anda ceritakan tadi sangat mengagumkan bagi saya, Mevrouw. Di luar itu, saya tidak bisa berkomentar apa-apa lagi. Sungguh.”

“Ayo. Tanyalah sesuatu. Kamu kan jurnalis?”

Sebenarnya ada. “Ah, ya. Bagaimana Anda bisa mengingat semuanya dengan begitu detail, Mevrouw?”

“Seperti yang saya katakan tadi, saya belum lahir ketika itu. Dan, tidak, saya bukan pengingat yang baik,” katanya sambil menunduk, membuka laci, dan mengangkat sesuatu berbungkus kain beludru kecoklatan. Ketika Mevrouw Oosterheerd menyingkapnya, jelaslah bagiku kalau itu sebuah buku. Buku yang sangat tua. “Mama menulis semuanya dalam buku harian. Kutemukan buku ini di antara benda-benda yang diwasiatkannya padaku.”

Aku tertegun memandang buku itu. Mevrouw Oosterheerd mengijinkanku memegangnya, tetapi aku hanya menyentuh sampul yang sudah kelupas. Aku tak berani mengangkatnya. Keadaannya pasti sudah sangat rapuh. “Ini adalah sejarah, Mevrouw,” gumamku kagum.

“Kita adalah sejarah, Nak,” ucapnya sambil mengangguk. “Nah, saya lanjutkan lagi?”

“Dengan senang hati, Mevrouw.”

“Pada tahun 1912, seperti yang kamu tahu, kapsul waktu dibuat. Saya akan lompati bagian ini karena nanti kamu akan dengar sendiri.”

Kontrolir Muntilan sudah tidak menganggu lagi. Kota kecil itu hidup damai dengan segenap kebersahajaannya. ELS Moentilan tetap dengan hiruk-pikuknya di atas bukit.

Rutinitas itu berlangsung cukup lama hingga suatu ketika di tahun 1930 alam mulai tidak ramah. Muntilan memang sering digetar oleh gempa kecil karena letaknya yang berdekatan dengan Gunung Merapi, namun pada hari itu getarannya sangat kuat. Bumi nampaknya sudah tidak kuat menahan tenaga yang begitu besar sehingga pada 25 November 1930 Gunung Merapi meletus. Penduduk Muntilan, tak terkecuali Helene, Raden Soerjadikromo, dan para guru, dibawa ke pengungsian. Dalam hujan abu, mereka bergerak ke arah selatan, meninggalkan kota kecil Muntilan yang menjadi sasaran terjangan abu panas. Lebih dari 1300 orang meninggal. Itu adalah jumlah terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah letusan Gunung Merapi.

Enam bulan kemudian, ketika langit sudah bebas dari abu, mereka kembali ke ELS Moentilan. Mereka harus memulai dari awal lagi, dalam hal ini berarti bangunan harus dibetulkan kembali, buku-buku harus dibeli lagi, kursi meja dipesan lagi. Jumlah murid berkurang, sebagian karena keluarganya pindah, sebagian karena beristirahat di pekuburan masal. Kota Muntilan semakin sepi.

Ada satu yang tidak kembali. Tidak pula dimakamkan di pekuburan masal. Helene sudah menghabiskan dua tahun mencari keberadaan Raden Soerjadikromo ketika suatu hari ia menerima selembar salinan manifes kapal uap yang berangkat dari Surabaya ke Suriname, sebuah wilayah kolonialisasi Belanda di Amerika Selatan. Nama suaminya tertera di sana.

Helene tak bisa berpikir jernih. Banyak pribumi diangkut ke Suriname untuk menjadi buruh migran setelah letusan Merapi. Tetapi mengapa harus Raden Soerjadikromo, hanya satu orang yang tahu jawabannya. Helene mendatangi kantor kontrolir Muntilan. Mencari pria licik yang dengan kekuasaannya bisa membuat hal itu terjadi. Tetapi sang kontrolir sudah lepas jabatan dan pergi ke Belanda. Hatinya hancur seketika. Kemarahannya memuncak, tetapi ia tak tahu ingin marah pada siapa. Ia ragu apakah kemarahannya akan menjadi sesuatu yang penting. Helene diam. Dalam diamnya ia membangun kembali ELS Moentilan bersama sisa-sisa yang ada.

Pada saat itulah ia datang ke sebuah panti asuhan Katolik dan memutuskan untuk mengadopsi seorang bayi perempuan cantik bernama Jasmijn. Bayi itu dirawatnya seperti anak sendiri. Dan memang anak sendiri. Jasmijn menjadi pelipur bagi hati Helene yang remuk redam. Jasmijn mengembalikan rasa cinta kasih Helene yang selama itu tersaput awan duka kehilangan.

Jepang menyerang Hindia Belanda pada tahun 1942. Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang yang langsung mengambil alih semua kekuasaan di Hindia, termasuk di dalamnya adalah gedung-gedung, alam, dan manusianya.

ELS Moentilan kembali harus menyerahkan nasib kepada pergulatan jaman. Gedung sekolah itu digunakan sebagai gudang persenjataan. Kota Muntilan dijadikan markas tentara sekaligus lokasi tahanan politik Jepang. Orang-orang Belanda dan Jawa sama-sama berada pada titik yang tidak aman. Helene, si kecil Jasmijn yang baru berusia 9 tahun, Pieter, dan orang-orang Belanda lainnya diangkut ke sebuah asrama Katolik yang sudah dialihfungsikan menjadi rumah tahanan.

Helene dan anaknya kehilangan wewenang atas dirinya ketika status kebelandaannya tidak dapat membantu sedikitpun. Bagi penguasa, mereka adalah tawanan perang. Mereka dipindahkan dari satu rumah tahanan ke rumah tahanan lain. Dari satu kota ke kota lain. Hingga pada suatu hari mereka dibebaskan dan ditinggal di pinggir tembok kota Jakarta. Keesokan harinya, tanpa membawa apapun kecuali sebuntal kain pakaian dan buku jurnal, Helene dan Jasmijn dikapalkan ke Belanda.

Ketika perang sudah usai, Helene memberanikan diri mencari Raden Soerjadikromo ke Suriname. Pasangan hidupnya itu tidak ada di mana-mana. Bahkan, menurut kabar, kapal yang berangkat dari Surabaya pada tahun 1933 tidak pernah tiba di Suriname melainkan tenggelam di lepas pantai karena menabrak karang. Lagi-lagi pekuburan masal yang harus Helene temui. Namun kali ini ia tidak yakin betul apakah jasad Soerjadikromo benar-benar dikubur di situ, atau ternyata tidak pernah ditemukan sama sekali, hanyut ke tengah samudera yang tidak hanya membunuh suaminya, tetapi juga mimpi-mimpinya.

“Mama pulang ke Belanda satu bulan kemudian dengan membawa kabar yang tidak lebih buruk. Hanya saja pilu,” ujar Mevrouw Oosterheerd. “Mama tidak pernah menikah lagi sejak saat itu. Namun ia masih menjalin hubungan baik—hubungan persaudaraan—dengan Pieter Oosterheerd. Anaknya kemudian dinikahkan denganku. Ya, hidup kami biasa-biasa saja setelah itu. Mama menjalani masa tua dan meninggal dengan tenang pada suatu pagi di Amsterdam.

“Mama tidak pernah cerita banyak tentang masa lalunya, tetapi buku ini lebih dari cukup. Dan dari buku ini pula aku tahu Mama dan Raden Soerjadikrama mengubur kotak besi di pekarangan belakang. Kini semua orang menjululiknya kapsul waktu, padahal dulu Mama dan Raden Soerjadikrama menamakannya De Doos van Hoop. Kotak Harapan,” kata Mevrouw Oosterheerd sambil terkekeh.

Aku menyelesaikan catatan kecilku ketika Soleh mengetuk pintu. “Bapak-bapak dari Dinas Purbakala sudah datang, Mevrouw. Bagaimana?”

“Ah, ya. Suruh mereka masuk, Soleh,” jawab Mevrouw Oosterheerd cepat.

Dengan begitu, aku minta diri untuk berjalan-jalan menikmati lingkungan sekitar ELS Moentilan. Aku keluar lewat teras yang langsung menuju ke pekarangan belakang di mana pemuda-pemudi Pramuka telah menyelesaikan tugasnya dengan rapi. Jurnalis sudah mulai berdatangan, sebagian dari mereka duduk di kursi yang disediakan untuk press release, sedangkan sebagian lagi membuat liputan di sudut-sudut strategis.

Mevrouw Oosterheerd memanggilku dari teras. “Saya belum selesai,” serunya. “Nanti kita lanjutkan lagi, ya?”


(Next)

Aug 13, 20120 notes
#Bagian Satu
Play
Aug 12, 20126 notes
Homosexuality: Facts for Teens

What does it mean to be homosexual?

A person is said to be homosexual if he or she is sexually or romantically attracted to members of the same gender, or sex. This doesn’t mean that homosexuals are sexually attracted to all members of the same gender any more than heterosexuals are sexually attracted to every person of the opposite sex. Typically, the words “gay” and “lesbian” are used to refer to homosexual men and women. The term “bisexual” refers to people who are attracted to both men and women.

Researchers who study human sexuality believe that sexual orientation develops and changes over a person’s lifetime. Having feelings about or even having a sexual experience with a person of the same sex doesn’t necessarily mean that a person is gay or bisexual. It’s not uncommon for people to experiment with their sexuality, especially during adolescence and young adulthood.

What causes homosexuality?

No one knows why some people are homosexual. Some people who study human sexuality believe that sexuality is a result of genetics, social or individual factors, alone or in combination. A common misperception is that troubled family relationships cause people to be homosexual, but no scientifically sound research supports this myth.

Is homosexuality a disease?

No, homosexuality is not a disease. All major mental health organizations, including the American Psychological Association (APA), have stated that homosexuality is not a mental disorder. Being unsure or uncomfortable about your feelings can cause anxiety and stress, which can sometimes cause physical problems like trouble sleeping, nausea and headache. Talking with people about how you feel, such as trusted family members and friends, can help reduce your stress and anxiety.

Can people be forced or convinced to change from gay to straight or the other way around?

No. Some people feel pressured to “change” their sexuality, but trying to be something you’re not can lead to stress, anxiety and depression.

What is homophobia?

Homophobia refers to an irrational fear, prejudice or discrimination towards homosexuals. Homophobia can take many forms, from name-calling and teasing to serious crimes like assault and murder. Homophobia is most often based on fear and ignorance.

I think I might be gay. How will I know if I really am?

You will eventually figure it out. You may consider different options or even experiment to determine what you are happy and comfortable with. The process may take a long time, and the decisions you make may be difficult for you and other people to accept.

What does “coming out” mean?

The process of telling people about one’s homosexuality is often referred to as coming out. The phrase “in the closet” is sometimes used to describe a person who’s gay but who hasn’t acknowledged it yet to friends and family members.

How do I come out and when is it appropriate?

As with any other personal information, when and whom you tell about your sexuality is your decision. It’s important and healthy for you to share your feelings with others. It’s also important to realize that telling others—even people you consider supportive—may not always be a positive experience. If you feel you can’t tell your parents, talk to a friend or someone else you trust. It’s possible that the people who are closest to you already know and are waiting for you to be comfortable enough to talk about it.

Aug 10, 20122 notes
“How do I know the truth, if you didn’t say so? I would understand if you trust and believe in me.” —Blue Day (Endah N’ Rhesa)
Aug 10, 20121 note
Bagian Satu #3

(Previous)

Seorang anak laki-laki berseragam Pramuka berdiri tanggung di samping papan kayu tua berukirkan EUROPEESCHE LAGERE SCHOOL MOENTILAN. Sekolah Dasar Eropa Muntilan. Aku berjalan pelan-pelan dari kejauhan, kedua kakiku berusaha berdamai dengan jalan setapak batu yang menanjak. Keretaku berhenti di Stasiun Tugu, Kota Yogyakarta, sekitar 25 kilometer jauhnya dari Muntilan. Dari situ kutemui Harlan, teman SD yang kini sedang kuliah di Universitas Gajah Mada. Dia memberiku sarapan gratis di warung belakang stasiun. Kami berbicara soal indeks prestasi (satu topik yang paling kuhindari), cuaca ibukota, lengangnya lalulintas di Yogyakarta, dan ketidaksukaanku terhadap organisasi masyarakat berbasis agama yang belakangan ini semakin merasa berdaulat. Ketika aku merogoh saku untuk membayar, Harlan mencegah. “Biar aku saja. Nanti kamu ganti kalau sudah jadi jurnalis sungguhan,” gumamnya sembari melempar senyuman sinis. Anak bodoh, aku sekarang jurnalis sungguhan.

Selesai sarapan, Harlan menjelaskan rute paling efisien untuk mencapai Muntilan. Wisatawan yang hendak mengunjungi Candi Borobudur dari arah Yogyakarta pasti melewati Muntilan, sebab Muntilan memang jalur utama menuju ke sana. Dengan demikian, tidak sulit mencari kendaraan. Aku pergi ke Terminal Jombor, kunaiki bus yang kali pertama kudengar menyerukan nama candi Buddha terbesar di dunia itu.

Sepanjang perjalanan, mataku terbeliak melihat batu-batu besar—yang tidak pada tempatnya—tergolek di sisi kiri dan kanan jalan. Ada tenda-tenda sederhana tempat tukang pemecah batu berteduh. Lembah dan bukit pasir menjadi pemandangan selanjutnya, sebelum bus melewati deretan pertokoan yang menjual stupa dan arca Buddha. “Gunung Merapi”, kata seorang perempuan paruh baya yang duduk di sampingku, menyadari ketidakbiasaanku terhadap pemandangan di luar jendela. Dua tahun lalu Gunung Merapi meletus. Kali itu letusannya memang cukup besar hingga kota Yogyakarta pun mati. Menurut berita, juru kunci Gunung Merapi—seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta yang telah ditunjuk bertahun-tahun lamanya—turut menjemput ajal di sana.

Kucoba membayangkan bagaimana suasana ketika itu. Mungkin mirip dokudrama Krakatoa: The Last Days buatan BBC? Tanpa tsunami, tentu saja. Mungkin sinar matahari terhalang selama beberapa minggu, sementara debu vulkanik yang mengandung silika berjatuhan dari langit. Seperti salju, hanya saja zat ini merusak paru-paru dan kornea mata. Kemudian pohon-pohon mati, daunnya merunduk ke tanah. Atap rumah runtuh karena tak kuat menahan beban debu. Jembatan putus. Sungai diluapkan lahar dingin. Bebatuan segala ukuran menggelinding di lereng, banyak rumah yang rata dengan tanah karenanya. Di kamp pengungsian, orang-orang harus bernapas menggunakan masker, sementara air bersih sama langkanya dengan pasokan listrik ketika malam tiba. Dalam situasi seperti itu, kurasa status dan peran sudah membaur dalam ketidakbergunaan. Barangkali konstruksi gender juga tidak ada artinya lagi. Semua kembali ke pemenuhan kebutuhan paling dasar yang diajarkan oleh moyang kita: bertahan hidup.

Turun di pinggir jalan besar, aku menyusuri toko-toko cinderamata hingga menemukan seseorang untuk bertanya. Aku berbelok ke jalan yang lebih kecil, menyeberangi rel kereta api tua yang sudah tidak digunakan lagi, melewati sebuah pedukuhan di belakang hiruk-pikuk pasar induk. Seperempat jam kemudian, setelah keluar dari hutan karet yang pohonnya tertanam lurus berbaris mengiringi jalan setapak, aku tiba di persawahan. Kehijauan yang berundak-undak ini mengagumkanku. Matahari menggantung hangat di sisi timur. Di bawahnya ada geligi gunung, seolah menjadi pagar sejauh mana sawah ini menghampar. Seorang petani dan kerbaunya bergerak menjauhi saung bambu, figur mereka lebih menyerupai siluet yang diabadikan dalam lukisan pematang sawah bergaya pointilisme bagiku. Suara gemericik air menarik perhatianku, begitu juga kilauan embun di puncak lengkungan daun padi, juga suara kicauan burung-burung sawah yang kehadirannya sudah diantisipasi oleh boneka jerami bercaping.

Jalan batu kemudian mulai menanjak. Dan di sinilah aku berada. Semakin dekat ke puncak bukit. Anak laki-laki berseragam Pramuka itu terlihat semakin jelas. Ia tersenyum. Kutunjukkan kartu pers kepadanya. Tanpa banyak cakap ia mengajakku masuk ke dalam. Namun ketika ia mulai berjalan, aku masih terpaku di tempatku berada. Mataku tidak bisa tidak memindai bangunan besar yang menurutku terlalu bagus untuk ukuran gedung sekolah dasar.

Europeesche Lagere School Moentilan—mulai sekarang akan kusingkat menjadi ELS Moentilan—terdiri dari bangunan berlantai dua yang dijejeri jendela berventilasi tinggi. Sebagian jendela sudah tidak berkaca lagi, menyisakan kerangka besi yang ditutup oleh tirai plastik. Dinding bangunan terbuat dari batu bata dicat putih, tentu kini sudah kecoklatan karena termakan usia. Serambinya terbuat dari kayu papan, mengelilingi sisi depan, samping, dan belakang bangunan. Tidak lupa atap yang tersusun dari genteng berwarna gelap disangga pilar-pilar ramping yang ditumbuhi tanaman rambat, sebuah versi bersahaja dari bangunan bergaya neoclassic. Jalan setapak sempit berkerikil menjadi penghubung antara pagar dengan pintu masuk. Di sebelah kiri, sebuah pohon oak tua dengan bentuk seperti payung raksasa menciptakan bayangan temaram di pekarangan yang ditumbuhi alang-alang. Di sudut lain pekarangan terdapat semak-belukar dan sejumlah palem liar. Tempat ini memang sudah sejak lama ditinggalkan, vegetasi yang tumbuh tanpa kendali cukup menjadi bukti. Namun megahnya bangunan dan letaknya yang tidak biasa—di puncak bukit yang dikelilingi pematang sawah—membuatku merasa ini bukan sembarang tempat. ELS Moentilan mestilah merupakan sesuatu di masa lalu.

Anak Pramuka menungguiku di ambang pintu. Kemudian kami masuk bersama. Ruang tengah yang—sesuai dugaanku—cukup besar ternyata tidak diisi apa-apa. Hanya ada sebidang lantai marmer dan beberapa perancah besi di sudut ruangan beserta tirai plastik yang menutupi furnitur tua. Ruangan ini sedang dalam renovasi, pikirku. Kami berjalan memasuki koridor kanan dan tiba di sebuah ruang kerja yang hanya terdiri dari sebuah meja kerja dan rak buku kosong. Seorang perempuan tua bertubuh mungil berdiri menghadap pekarangan, menjepit gagang telepon di antara pundak dan kepalanya, sementara tangannya sibuk menulis sesuatu.

“Mevrouw, we’ve got our first journalist,” ujar si anak Pramuka. Aku terkejut dengan kefasihannya berbahasa Inggris.

“Ah, come in, please,” jawab perempuan itu. Kemudian ia menutup teleponnya, berbalik badan, dan berjalan ke arah kami. Ia tersenyum ramah padaku. Tangannya membelai kepala anak Pramuka. “Terima kasih, Soleh.”

“Sama-sama, Mevrouw!” ujarnya, kemudian ia pamit pergi.

“Een scout lacht en fluit onder alle omstandigheden,” gumam sang Mevrouw sambil melirik padaku. “Seorang Pramuka selalu tersenyum dan meniup peluit dalam situasi apapun, begitu kata Robert Baden-Powell.”

Aku mengangguk. Kuperkenalkan diriku sambil menunjukkan kartu pers, satu hal yang entah mengapa membuatku merasa sebagai jurnalis sungguhan. Lagipula aku memang jurnalis sungguhan! Kalau tidak, aku takkan pergi sejauh ini.

“Jasmijn Oosterheerd. Saya ahli waris rumah ini,” katanya memperkenalkan diri dalam bahasa Indonesia yang jelas. “Secara de jure, tanah ini punya pemerintah. Tetapi saya selalu merasa ini rumah saya, sekolah saya. De facto. Ayo, silakan duduk. Teh?”

Aku agak segan. Namun menolak keramah-tamahan bukanlah awal yang baik, jadi kuterima tawarannya. Mevrouw Oosterheerd adalah seorang perempuan Belanda yang ramah. Usianya mungkin sekitar tujuh puluhan akhir. Langkahnya pelan dan bersahaja. Rambutnya yang telah memutih digelung seperti gadis Jawa. Ia memakai kebaya putih yang disesuaikan dengan tubuhnya mungilnya, lengkap dengan kain jarik sebagai bawahan.

Tidak lama, Mevrouw Oosterheerd kembali dengan nampan berisi poci teh dan dua cangkir porselen. Aku merasa seperti tamu kehormatan di rumah aristokrat Hindia Belanda. Setelah kedua cangkir diisi penuh olehnya, aku mengucapkan terima kasih dan kami berdua menyesap teh bersama-sama.

“Jadi, Periskop, majalah apa itu?” tanyanya.

“Periskop adalah majalah ilmiah populer, Mevrouw,” jelasku. “Kami terbit sebulan sekali. Majalah kami sudah berskala nasional, namun mungkin hanya sebatas tersedia di toko buku dan gerai di ibukota provinsi.”

Mevrouw Oosterheerd mengangguk. “Kamu cukup muda untuk menjadi jurnalis.”

Aku sedikit tersipu. “Mevrouw tidak tahu, sekarang banyak jurnalis muda bekerja di media-media nasional. Kebanyakan memang masih berstatus sebagai volunteer, tetapi jika kinerja mereka baik, mereka akan mampu diangkat sebagai kontributor tetap, dan kemudian jadi jurnalis resmi.”

Mereka itu sebenarnya aku, dengan segala pengharapanku.

“Saya senang mendengarnya. Kamu adalah jurnalis pertama yang datang ke sini, saya sangat mengucapkan terima kasih. Memang sudah saatnya orang-orang di luar sana tahu apa yang tersimpan di Muntilan ini.”

“Anda tidak perlu berterima kasih, Mevrouw, memang inilah pekerjaan kami,” jawabku sambil tersenyum. Di ruang kerja terdapat teras terbuka yang langsung terhubung ke pekarangan belakang. Pohon-pohon besar menjadi batas pekarangan itu. Rumputnya hijau, rapi terpangkas, tidak seperti di pekarangan depan. Ada lebih banyak anak Pramuka di sana, namun mereka lebih besar dari Soleh. Mereka berjalan hilir-mudik, mengatur kursi dan melapisi meja dengan kain putih, mendirikan tiang-tiang tenda. “Apa yang anak-anak Pramuka lakukan di pekarangan, Mevrouw?”

“Ah. Tentu kamu tahu hari ini hari penggalian kapsul waktu, bukan? Siang nanti akan ada lebih banyak orang datang kemari. Pemerintah, peneliti, akademisi, pelajar, orang-orang desa, dan jurnalis—sepertimu. Akan ada press release tentang pengangkatan kapsul waktu, sekaligus memamerkan benda-benda apa saja yang ada di sana sebelum nanti sore kami tutup kembali untuk dibawa ke Dinas Purbakala, sesuai kesepakatan. Kami juga akan mengumumkan rencana pemerintah Belanda mendanai tempat ini, atas nama keluarga kami, untuk dipugar menjadi museum. Sejauh ini beberapa tahap renovasi sudah dilakukan.

“Hari ini hari besar, namun tidak ada tenaga yang dapat membantu. Saya sendiri sudah di Muntilan sejak tiga bulan lalu. Memang, kelompok peneliti menaruh perhatian besar terhadap kapsul waktu, namun mereka tidak peduli dengan persoalan sepele seperti ini. Untung saja saya menjalin komunikasi yang baik dengan keraton, mereka mengirim anak-anak Pramuka dari kota untuk membantuku. Ah, Pramuka. Mereka memang penuh kebajikan dan semangat. Mereka sudah ada di sini sejak kemarin malam. Sore nanti mereka akan kembali ke Yogyakarta. Kami harus berpisah. Saya pasti akan merindukan Soleh,” katanya sambil terkekeh.

Aku merasa beruntung bisa datang sepagi ini. Aku punya lebih banyak waktu untuk bercakap-cakap dengan Mevrouw Oosterheerd. Bayangkan jika aku baru datang nanti siang, mungkin aku hanya akan di pekarangan mencatat press release sama seperti jurnalis lainnya. Beruntung, sangat beruntung.

Mevrouw Oosterheerd meneguk tehnya, kemudian balik bertanya, “sudah berapa lama di Muntilan?”

“Ini baru tiba, Mevrouw. Semalam berangkat dari Jakarta, tadi subuh tiba di Yogyakarta, langsung ke sini.”

“Kali pertama ke Muntilan?”

Aku mengangguk. “Ya, Mevrouw.”

“Bagaimana Muntilan, menurutmu?”

Aku teringat kembali pematang sawah dengan segala keindahannya di kaki bukit tadi. “Muntilan sangat cantik. Sejuk. Cukup lengang—kecuali di pasar. Aku kagum bagaimana di kota kecamatan kecil yang asri dan bersahaja seperti ini ternyata pernah ada sejarah kolonialisme. Bukti bahwa di sini pernah dibangun ELS menandakan bahwa Muntilan bukan sembarang tempat bagi pemerintah Hindia Belanda. Benar begitu, Mevrouw?”

“Saya memang bukan ahli sejarah, tapi saya hidup dalam sejarah,” ujarnya bangga. “Dan ya, kamu benar. Muntilan bukan kota biasa. Mama saya, Helene van Rees—nanti kamu akan tahu lebih banyak tentangnya—selalu mengatakan bahwa awal abad 19 adalah permulaan dari Muntilan. Dulu banyak orang Tionghoa tinggal di sini. Frans van Lith, seorang pastur dari Oirschot, kemudian datang pada akhir abad 19. Van Lith membangun komunitas umat Katolik pribumi pertama di Jawa. Ia membangun gereja, rumah sakit, asrama, dan sekolah,” Mevrouw Oosterheerd terhenti di situ. Kemudian ia berujar lirih pada dirinya sendiri, “sekolah yang didirikan Pastur van Lith beruntung, masih berdiri sampai sekarang.”

Kubiarkan Mevrouw Oosterheerd menekur dalam kesunyian selama beberapa saat. Jika ELS Moentilan masih bertahan, tentu keadaan akan jauh berubah. Ruangan manis ini barangkali adalah ruang kepala sekolah. Pekarangan di depan akan rapi, mungkin dengan parkiran sepeda. Pekarangan belakang akan dialihfungsikan menjadi kantin dengan air mancur. Jendela-jendela tinggi masih utuh. Ruang kelas penuh dengan meja dan kursi tempat anak-anak Muntilan mengisi hari. Ruang guru akan penuh percakapan akademis. Ruang utama yang berlantai marmer itu—selain menjadi meja resepsi—mungkin juga menjadi loket lost-and-found. Khayalanku buyar saat Mevrouw Oosterheerd mengangguk untuk melanjutkan.

“Pada tahun 1900, Muntilan ditempati oleh pejabat Belanda berpangkat kontrolir. Kukira pembangunan mulai dilakukan sejak saat itu. Jalur kereta yang menghubungkan Yogyakarta dengan Magelang dibangun melewati Muntilan. Perkebunan tebu dibuka. Belanda memiliki sebagian besar tanah.

“Sementara itu, bukit ini hanyalah hutan beringin. Tidak ada yang berani membuka lahan di sini karena hal itu dipercayai akan membawa petaka. Tidak baik mengusir penunggu hutan beringin. Namun pemerintah tetap saja membebaskan lahan ini untuk dijadikan sekolah. Tidak ada kejadian buruk terjadi setelahnya. Kecuali, ya—sekolah ini tidak pernah bertahan begitu lama. Tetapi kami mengalami masa-masa yang sangat indah di ELS Moentilan, aku berani katakan itu.”

Aku mengangguk. Kedua cangkir kami telah kosong. Kuambil poci teh yang isinya tinggal setengah. Kutawarkan Mevrouw Oosterheerd untuk kuisikan cangkirnya, ia tidak menolak. Setelah menyesap sekali, aku bertanya, “jadi, tahun berapa ELS Moentilan berdiri, Mevrouw?”

Mevrouw Oosterheerd memejamkan matanya, berusaha mengingat. “Dibangun pada 1904, mulai dibuka pada Juli 1905. Saya belum lahir pada saat itu, tetapi Mama selalu menceritakannya dengan bangga. Bukan bangga pada dirinya yang ketika itu diutus langsung oleh gubernur jenderal untuk menjadi kepala sekolah, tetapi karena sejak hari pertama kegiatan belajar-mengajar diadakan, kami tak pernah memisahkan antara murid Eropa dengan murid Pribumi.”

Kulihat senyum bangga juga merekah pada bibir tipis Mevrouw Oosterheerd. Ada banyak hal yang bisa kugali dari sini, tetapi rasa penasaranku akan kapsul waktu ternyata meluap kembali. Kucoba alihkan pembicaraan. “Tentang kapsul waktu yang ditanam pada tahun 1912, Mevrouw, ba—”

“Jika saya jelaskan kapsul waktu sekarang, saya jamin tidak akan ada bedanya dengan apa yang akan saya sampaikan di press release nanti,” ujarnya lembut. “Jadi, daripada kamu membuang waktu untuk mendengar hal yang sama dua kali, saya akan menceritakan hal lain yang takkan kusinggung nanti. Orang-orang di luar sana tidak tertarik dengan ini. Barangkali tidak penting. Barangkali tidak ada dampak ilmiahnya. Biarlah mereka begitu, tetapi bagi jurnalis muda sepertimu, cerita ini ada baiknya kusampaikan.”

Aku mengangguk paham. Kuajukan beberapa pilihan dalam wawancara kepada Mevrouw Oosterheerd. Menjelaskan hal ini merupakan bagian dari kode etik jurnalistik. Ada tiga pilihan di luar wawancara biasa: Not for attribution, berarti aku boleh mengutip perkataannya tetapi tidak boleh mencantumkan identitasnya; Not to be quoted, berarti aku tidak boleh mengutip langsung apa yang dikatakan oleh narasumber. Di sini kelihaian gaya bahasa dan parafrase seorang jurnalis bermain; Yang terakhir, off the record, berarti baik identitas narasumber maupun informasi yang diberikan tidak boleh kuberitakan sama sekali. Biasanya ini dipakai untuk alasan keselamatan, atau karena menyangkut isu yang sensitif. Aku yakin semua jurnalis menginginkan narasumbernya kooperatif dengan mengizinkan identitas dan informasinya diberitakan penuh. Namun jika seorang narasumber meminta wawancara dilakukan secara off the record—meskipun itu menyakitkan karena berarti tidak ada yang bisa ditulis—ada rasa kebanggaan tersendiri bagi seorang jurnalis. Kepercayaan narasumber untuk menyampaikan informasi secara off the record secara tidak langung berarti pengakuan terhadap integritas si jurnalis itu sendiri.

Tetapi Mevrouw Oosterheerd ternyata hanya menginginkan wawancara biasa. “Kamu datang ke sini jauh-jauh tentu tidak untuk pulang dengan rekaman kosong, bukan? Ayo, keluarkan!”

Kukeluarkan alat perekam dari tas. Apapun yang akan diceritakannya, kini aku sudah siap.

“Tapi,” tangan Mevrouw Oosterheerd menutup mulutnya. “Saya mungkin akan lebih fasih dalam bahasa Belanda—atau bahasa Inggris. Bagaimana?”

“Silakan dalam bahasa apapun yang membuat Mevrouw nyaman.” Kunyalakan alat perekam. Benda hitam seukuran genggaman tangan itu kudekatkan ke mulutku. “Wawancara dengan Jasmijn Oosterheerd, ahli waris ELS Moentilan—“

“Dan calon kurator Museum ELS Moentilan,” tambahnya.

“—sekaligus calon kurator Museum ELS Moentilan berusia—”

“Tujuh puluh sembilan tahun.”

“Berusia tujuh puluh sembilan tahun. Kewarganegaraan Belanda. Selasa, 10 April 2012, pukul 9.34 pagi waktu Indonesia barat. Lokasi: Europeesche Lagere School Moentilan, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Topik—”

“Tentang sekolah ini, dan tentang mama saya, Helene van Rees.”

Kurasa suara Mevrouw Oosterheerd sudah cukup terdengar sehingga tak perlu lagi kuulangi. Alat perekam kuletakkan di atas meja. Sebuah buku dan pensil untuk mencatat poin-poin penting telah siap. Aku sedang menggambar angka ‘1905’ ketika Mevrouw Oosterheerd mulai menuturkan kisahnya dalam bahasa Inggris.

(Next)

Aug 08, 20120 notes
#Bagian Satu
“Saya keberatan pada kekerasan karena meskipun hasilnya tampak baik, itu hanya sementara. Kehancuran yang disebabkannyalah yang akan abadi.” —Mahatma Gandhi
Aug 08, 20122 notes
Bagian Satu #2

(Previous)

Pukul 11.49 malam. Sudah hampir sepuluh menit kereta yang kutumpangi berhenti di Stasisun Cirebon. Dari pintu kereta yang sengaja dibuka lebar untuk keperluan penumpang yang akan turun, kudengar suara pedagang menawarkan emping udang dan telur asin. Aku tak menoleh ke belakang, namun sepertinya mereka bertengger dari pintu ke pintu. Tak satupun dari penumpang di gerbong beranjak dari kursinya. Semua bergelung di balik selimut masing-masing. Selimut itu, ngomong-ngomong, tidak menghangatkan barang sedikit.

Televisi layar datar di depan menayangkan iklan layanan masyarakat jasa perkeretaapian, tidak berubah sejak pemberangkatan dari Stasiun Gambir tadi. Sumpah aku sampai ingat di luar kepala adegan ini: pemandangan kereta api lewat di atas jembatan, seorang perempuan berseragam muncul dengan efek chroma key yang kasar, berbicara, menggerakan tangan, memunculkan kotak-kotak virtual bertuliskan fasilitas terbaru layanan mereka, kemudian hilang lagi dan diganti suasana kabin yang rapi. Tidak lupa animasi tanggung yang menggambarkan perkembangan jangkauan layanan kereta api di Sumatera dan Jawa. Warna-warni animasinya mengingatkanku pada iklan obat demam anak-anak.

Tepat di depanku, menempel di bagian belakang kepala kursi penumpang, sebuah booklet plastik kehijauan menawarkan jasa perbankan syariah. Aku sudah membolak-baliknya, berharap menemukan simbol tersembunyi—mungkin semacam konspirasi bank syariah dengan Illuminati?

Lagi, panggilan penjaja emping dan telur asin semakin kencang—dan bersahut-sahutan. Kucoba memejamkan mata. Aku lelah sekali, tapi tidak bisa tidur. Atas nama kebebasan berekspresi kumaklumi mereka yang hanya ingin mencari nafkah. Toh ketika kereta ini melanjutkan perjalanan—mungkin lima menit lagi—mereka akan tetap bertahan di stasiun, menunggu kereta berikutnya singgah.

Kalaupun ada yang tidak bisa kutoleransi dalam gerbong ini, itu adalah seorang bapak tua yang duduk di kursi paling belakang. Dia—aku ingin sekali menunjuknya langsung dengan jari tengahku—sudah berbicara di ponselnya sepanjang perjalanan dari Gambir pukul delapan malam tadi hingga sekarang. Tentu itu bukan masalah bagi siapapun seandainya dia bisa mengecilkan volume suaranya dan menghormati semua orang yang ingin istirahat. Tapi dia tidak. Beberapa petugas kereta sudah keluar dan masuk, mencoba menegurnya dengan sangat halus, namun bapak ini tak pernah menanggapinya dengan serius. Dia terus menelepon beberapa orang yang berbeda, bercakap-cakap dengan logat Batak yang kentara. Suaranya terdengar seperti teror bagiku—mungkin bagi semua orang di gerbong ini, namun tak satupun yang menunjukkan keterusikannya.

“Otak enthok! Kau dengar ini,” seru bapak itu. “Arab itu bukan Islam! Islam itu bukan Arab! Kau tahu itu? Nah, aku akan melawan. Apa? Ya pasti, lah! Aku ini bapaknya. Masa anakku digrepe-grepe di Arab Saudi aku diam saja?”

Tapi dia diam beberapa saat, nampaknya mengakhiri panggilan dengan lawan bicaranya, kemudian menghubungi orang lain.

“Halo. Ya! Ini aku. Aku gusar sekali, kau tahu? Anak perempuanku yang paling tua—ya, si Ros itu, yang jadi TKI di Arab Saudi—barusan dia telepon aku, katanya dia dipegang-pegang sama majikannya. Muak aku! Kusuruh dia untuk pergi saja dari situ, tapi ternyata gaji dan paspornya ditahan, katanya—apa? Ya! Kurang ajar betul! Kau dengar ya, Arab itu bukan Islam! Islam itu bukan Arab! Getek memang! Haruslah dia recok denganku dulu!”

Kepalaku ingin pecah rasanya. Kucondongkan tubuhku ke koridor, melihat ke sumber suara. Bapak itu duduk di kursi yang menempel dengan dinding belakang gerbong, namun berada di tepi koridor sehingga aku bisa melihatnya dengan jelas.

“Hei, Pak!” sahutku dengan kesabaran yang sudah habis. “Saya mengerti anak Bapak sedang dalam kemalangan. Saya pun turut prihatin. Tapi suara Bapak sangat mengganggu. Daripada Bapak hubungi semua orang yang ada di hape Bapak, lebih baik Bapak telepon dinas ketenagakerjaan. Atau diam saja sudah.”

Bapak itu membalas nanar tatapanku. “Eh? Anak kurang ajar kau, ya. Jangan ikut campur urusanku!”

“Tidak ada yang ingin mencampuri urusan Bapak,” jawabku. “Bapak sendiri yang melakukannya!”

Beberapa penumpang terbangun—atau sebenarnya mereka terjaga dari tadi, hanya saja tidak mau mencari masalah sepertiku. Kepala mereka menyembul dari balik kursi. Kuharap mereka menganggapku sebagai pahlawan, karena kalau tidak, aku adalah orang yang paling dipermalukan di sini. Seorang petugas kereta masuk ke gerbong kami. “Ada yang bisa dibantu?” tanyanya.

Aku menunjuk ke belakang, “saya sangat terganggu dengan Bapak ini.” Kini aku berbicara pada si bapak tua, “saya bayar tiket sama mahalnya dengan setiap orang di sini, sama mahalnya dengan tiket Bapak. Tolong hargai kenyamanan saya, kenyamanan kami.”

Petugas kereta menghampiriku dan memohonkan maaf atas ketidaknyamanan yang dibuat si bapak tua. Aku memintanya untuk menindak penumpang satu itu, tapi seperti yang sudah kuperkirakan sebelumnya, bapak tua hanya mengangguk-angguk seolah paham ketika dinasihati, meski kali ini agak tegas. Ketika petugas menutup pintu di belakangnya, hanya butuh waktu tiga menit untuk mendengar kembali maki-makian khas Batak berhamburan dari mulutnya.

Aku kembali membenamkan diri di kursi. Tak punya sumbat kuping, maka kuambil saja iPod. Kupilih lagu yang paling menghentak dengan volume tinggi. Apapun kulakukan agar suara bapak itu tak menggangguku lagi. Tapi bukan ini yang kubutuhkan. Seandainya ada musik yang melantunkan ketiadaan suara, mengedapkan semua kebisingan, akan kuputar saat itu juga. Kucoba untuk tidur.

Dua jam—yang menyiksa—kemudian, kereta berhenti di Stasiun Purwokerto. Aku kembali terjaga ketika pedagang gethuk dan tempe mendoan berteriak-teriak di ambang pintu. Setelah kereta berjalan, suara bapak tua tidak terdengar lagi. Kukira dia turun di Purwokerto. Turun, atau diturunkan, syukurlah. Aku menatap ke jendela di sampingku. Gelap. Hanya sekali dua kali cahaya berkelebat. Kedamaian. Hanya ini yang kubutuhkan.

Tiba-tiba ponselku bergetar. Ismi, penanggungjawab rubrik sejarah yang ramah namun selalu awas dengan kualitas tulisan reporternya, mengirim pesan:

 

[Gue minta verbatim-nya dikirim sore nanti, ya? Biar bisa gue cek. Kalo ada yang kurang-kurang kan bisa gue evaluasi dulu. Nanti kalo lo keburu nulis eh takutnya ada yang kurang kan jadi repot hehe. Thanks!]

 

Aku menekan reply, mengetik dengan cepat:

 

[Gue nggak seamatir itu, Mbak.]

 

Tapi aku tidak mau Ismi salah tangkap, jadi kuhapus lagi. Kuganti:

 

[Gue tau apa yg buat ditulis kok Mbak, tenang aja ok.]

 

Sejenak kudiamkan teks itu. Bu Supinah pernah menggambar piramida untuk membantunya menjelaskan sistem kasta umat Hindu di India dalam kelas Pengantar Sosiologi pekan lalu. Brahmana, golongan pendeta yang dimuliakan dengan segala kebijaksanaannya, menempati puncak piramida. Selapis di bawahnya adalah Ksatriya, golongan bangsawan yang mengatur urusan administrasi kenegaraan dan militer. Kemudian ada Waisya, golongan penggerak perniagaan yang mengurusi dunia materi, wajib memenuhi kebutuhan pokok dua kasta di atasnya. Di paling dasar ada Sudra, golongan pembantu dan pelayan. Sebenarnya ada satu lagi golongan—paria—namun golongan ini bahkan tidak masuk dalam piramida. Mereka adalah outcast abadi. Bahkan dalam beberapa literatur yang kubaca, paria tidak dianggap sebagai manusia. Tentu kastanisasi seperti itu tidak kentara lagi di kehidupan modern, terutama sejak dipahaminya konsep hak asasi manusia.

Namun piramida stratifikasi sosial Bu Supinah akan selalu ada di mana-mana, termasuk di ruang redaksi majalah kami. Dan jika benar kami dipiramidakan, maka aku akan berada di paling dasar, seperti Sudra. Aku hanyalah—baru—seorang volunteer yang melayani dengan imbalan pengalaman bekerja di badan pers profesional. Hanya rasa bangga yang membayarku, terutama ketika tulisanku dimuat. Jurnalis mana yang tidak bangga kalau artikelnya dimuat di media berskala nasional?

Hanya ini kesempatan yang—jika berhasil—akan memompaku sedikit lebih tinggi. Dari Sudra ke Waisya.

Kuhapus lagi semuanya.

 

[Ok mbak.]

 

Sent.

Ada yang mengganjal. Bagaimanapun juga, draft pertamalah yang sebenarnya ingin kukirim.

(Next)

Aug 04, 20121 note
#Bagian Satu
Bagian Satu #1

Pada tahun 1935, Dr. Thornwell Jacobs—seorang akademisi yang di kemudian hari menjadi Presiden Oglethorpe University, Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, selama hampir tiga dekade—mengalami kebuntuan ketika sedang melakukan sebuah penelitian untuk keperluan bukunya mengenai sejarah. Ia dikejutkan dengan kenyataan akan kurangnya informasi yang akurat mengenai peradaban kuno dunia.

Untuk mengindari hal serupa terjadi di masa depan, Dr. Jacobs bertekad menyelamatkan peradaban modern melalui sebuah terobosan ilmiah. Ia kemudian merancang Crypt of Civilization—sebuah kapsul waktu—di mana sejumlah besar benda terpilih hasil peradaban manusia akan disimpan di suatu tempat untuk sekian tahun dan tidak boleh dibuka hingga tanggal yang ditentukan, suatu hari di masa depan.

Proyek luar biasa ini dimulai pada musim panas Agustus 1937. Dalam waktu tiga tahun, Dr. Jacobs dan tim berhasil menciptakan mikrofilm berisi 800 hal yang patut diketahui umat manusia. Termasuk di dalamnya adalah 200 karya sastra, gambar-gambar penemuan dalam bidang transportasi dan komunikasi, catatan mengenai jenis olahraga dan hiburan dalam satu abad terakhir, film mengenai kejadian bersejarah sejak 1898, kumpulan foto Amerika Serikat sejak 1840, rekaman pidato penting di radio, peralatan medis, pemandangan objek wisata terkenal dari seluruh dunia, alat pengintroduksi bahasa Inggris—untuk berjaga-jaga seandainya bahasa Inggris sudah tidak digunakan lagi di masa depan.

Selain mikrofilm, Crypt of Civilization juga disediakan untuk menyimpan satu set krayon dan alat tulis, seliter bir, cermin dandan lengkap dengan lampu, album Artie Shaw, manekin laki-laki dan perempuan dalam tudung kaca, pesawat telepon, kain tekstil, senter, sampel aluminium foil, kamera Kodak, pisau cukur elektrik, mangkuk asal Tiongkok, sepasang stoking, sebotol Vaseline, kelereng, pisau lipat, pembuka kaleng, gelas whiskey, raket badminton, pistol mainan, boneka Afro-American, boneka kulit putih, Donald Duck, penghapus karet, mesin jahit, dan ratusan benda lainnya yang membuat ruangan dengan panjang 6 meter, lebar 3 meter, dan tinggi 3 meter itu terisi penuh tabung-tabung artifak.

Crypt of Civilization terletak di bawah Phoebe Hearst Hall, sebuah gedung akademik berarsitektur neo-Gothic yang terletak di timur laut kompleks Oglethorpe University. Dr. Jacobs dan tim mendesain agar ruangan itu berada di tempat yang kokoh, sehingga mereka menempatkan the crypt di atas sebuah landasan batu. Ruangan itu beratapkan lapisan batu setebal 0,6 meter. Tidak ingin ada satu pun benda mengalami pelapukan, mereka mengganti udara di dalam ruangan dengan gas inert yang dikenal tidak reaktif, sehingga mencegah terjadinya reaksi kimiawi dengan zat sekitar.

Sebuah pintu besi raksasa anti karat dilas untuk menyegel ruangan pada tanggal 28 Mei 1940. Berdasarkan penelusuran sejarah, peradaban manusia kali pertama tercatat melalui diciptakannya kalender Mesir pada 4241 SM, kurang lebih sekitar 6000 tahun yang lalu. Dengan data tersebut, Dr. Jacobs menginstruksikan bahwa Crypt of Civilization tidak boleh dibuka hingga 28 Mei 8113, kurang lebih sekitar 6000 tahun kemudian. Perhatikan penekanan pada 6000 tahun sebelum dan 6000 tahun sesudah. Ya, Dr. Jacobs dengan sengaja ingin menempatkan kapsul waktunya tepat di titik tengah peradaban manusia.

Selanjutnya, kapsul waktu dibuat di mana-mana. Semua orang berlomba menitipkan peradaban dengan cara yang sedemikian heroik. Semua orang ingin menjadi bagian dari sejarah. Bermula di New York untuk World Fair pada 1964. Di Aktau, Kazakhstan, kapsul waktu ditanam untuk menghormati para pembangun kawasan Mangyshlak Peninsula pada 1967. Di Bulan, sebuah kapsul waktu berupa cakram silikon seukuran koin berisi pesan kemanusiaan dari 73 pemimpin negara-negara seluruh dunia ditinggalkan oleh astronot Apollo 11 pada 1969.

Crypt of Civilization diklaim sebagai kapsul waktu modern pertama di dunia yang sukses mengubur rekaman sejarah kebudayaan manusia untuk penghuni—maupun pengunjung—planet Bumi di masa depan dengan mengusung satu tanggal spesifik, sebuah langkah revolusioner yang mengundang decak kagum kelompok akademisi. Dr. Jacobs sendiri kemudian disebut sebagai ‘Bapak Kapsul Waktu Modern’. Berkatnya, antropolog, arkeolog, dan sejarawan masa depan akan memiliki metode baru yang jauh lebih akurat untuk mengkaji kehidupan lampau.

Informasi tambahan dari Lintang, pemimpin redaksiku: sebuah sekolah kolonial di Muntilan, Jawa Tengah, ternyata menanam kapsul waktu pada tahun 1912. Ini berarti 28 tahun lebih awal dari apa yang pernah dilakukan Dr. Jacobs dengan Crypt of Civilization-nya.

Kuputuskan untuk pergi bahkan sebelum Lintang mengirim surel penugasan peliputan.

(Next)

Aug 02, 20121 note
#Bagian Satu
Next page →
2012 2013
  • January 25
  • February 43
  • March 22
  • April 42
  • May 34
  • June 5
  • July
  • August
  • September
  • October
  • November
  • December
2011 2012 2013
  • January 50
  • February 24
  • March 25
  • April 16
  • May 47
  • June 46
  • July 21
  • August 12
  • September 6
  • October 1
  • November 3
  • December 7
2011 2012
  • January
  • February
  • March
  • April
  • May
  • June 20
  • July 14
  • August 17
  • September 21
  • October 20
  • November 51
  • December 37