Bagian Satu #8 (Selesai)
Sambil mendengarkan rekaman wawancara tadi pagi, kutunggu sang arkeolog dan timnya keluar dari ruangan Mevrouw Oosterheerd. Tak lama kemudian, dengan langkah cepat dan tampang sedingin es, mereka melintas di depanku, masuk ke mobil Xenia hitam, menghilang di balik pohon oak. Bagaimana bisa mobil melewati jalan setapak pinggir pematang sawah? Entahlah, bukan urusanku. Mereka pasti melalui jalan lain di punggung bukit, mungkin harus memutar di antara hutan beringin.
“Bureaucraat!” gerutu Mevrouw Oosterheerd dari balik mejanya. “Kalau saja suamiku masih hidup, dia pasti akan menghajar mereka habis-habisan. Orang tua kami yang membangun tempat ini dengan jerih payah dan kesabaran, seenaknya mereka datang meminta komisi,” semburnya. “Orang-orang birokrat itu semua digaji negara, tetapi mereka tidak pernah lelah meminta komisi di bawah tangan. Dana keamanan, lah, dana asuransi, lah. Mereka kira aku tidak tahu bagaimana hukum di negara ini berjalan?”
Senyum kecil mengembang di wajahku. Hukum—apapun definisinya—adalah sampah yang tengah kupelajari selama hampir satu tahun terakhir.
“Mereka membawa serta de doos van hoop?” tanyaku sambil menutup pintu.
Mevrouw Oosterheerd menggeleng. “Memang begitu rencananya awalnya. Tetapi setelah mereka mengajukan lembar tagihan dan memintaku menandatangani surat perjanjian, saya langsung menolaknya. Mereka kira saya menjual barang-barang ini? Lekas saja saya kehilangan kepercayaanku kepada mereka. Jika memang Dinas Purbakala perlu melihat barang-barang ini, kuminta direktur mereka langsung yang datang ke sini,” ujarnya dengan nada tinggi. “Atau kalau perlu, saya sendiri dan anak-anak pramuka yang membawanya ke sana. Mereka jauh lebih kupercaya dibanding birokrat purbakala.”
Aku hanya mengangguk. Mevrouw Oosterheerd membuka pintu lemari kayu. Ternyata di sanalah ia menyimpan de doos van hoop beserta isinya, di dalam sebuah kotak plastik berwarna oranye yang sedikit lebih besar. “Kamu tahu tempat yang lebih aman dari Dinas Purbakala?”
Tebakan asal. “Ruang bawah tanah?”
“Seandainya bangunan ini punya—ya. Tapi, kan, nyatanya tidak,” Mevrouw Oosterheerd menutup kotak oranye rapat-rapat. “Keraton, Nak.”
Mataku terbelalak. “Anda—Anda akan membawanya ke keraton? Sekarang?”
“Inilah mengapa aku sayang dengan anak-anak pramuka. Mereka itu bala bantuan dari Sultan. Kamu harus menjalin hubungan baik dengan orang-orang yang baik, jadi begini hasilnya,” ujarnya dengan wajah yang lebih hangat, sepertinya dengan cepat ia sudah melupakan orang-orang Dinas Purbakala. “Kami akan pergi ke kota nanti sore. Mereka bisa menunggu, lagipula mereka butuh istirahat sejenak. Hari ini begitu melelahkan bagi kita semua. Dan—kita punya urusan yang belum selesai, bukan?”
Aku sudah menunggu-nunggu saat ini. “Mevrouw, sebenarnya saya punya pertanyaan.”
“Bagus.”
“Tapi saya tidak tahu bagaimana mempertanyakannya.”
“Ayolah, Nak, ini bukan kelas filsafat,” timpal Mevrouw Oosterheerd ringan. “Kamu, kan jurnalis. Saya narasumbernya. Begitu seharusnya kita berperan, bukan?” ujarnya sambil melempar senyum yang penuh penafsiran. Entah apakah Mevrouw Oosterheerd dapat menerawang isi kepalaku atau ia hanya pura-pura tahu aku sedang kebingungan.
“Tadi Anda bilang ceritanya belum selesai, Mevrouw?”
Mevrouw Oosterheerd menggeleng mantap. “Saya tadi bilang kita belum selesai. Sekarang giliran kamu yang berbicara. Ayo, tanya. Saya tahu kamu punya pertanyaan.”
Mengapa seolah-olah cerita ini jadi begitu penting untuk kami berdua? Aku, kan, hanya datang untuk dapat berita tentang penggalian kapsul waktu di belakang sekolah tua di Muntilan, supaya aku bisa menulis laporan perjalanan yang belum pernah ada sebelumnya dan membuat Lintang—pemimpin redaksiku—dan jajaran staf Majalah Periskop beserta segenap pembaca terkagum-kagum dan aku naik kasta. Ternyata aku harus mendengar kisah yang dimulai jauh sebelum kapsul waktu ditanam, sebuah kisah yang begitu pelik. Harus kuakui bahwa Helene van Rees mengalami banyak kepahitan dalam hidupnya, meski begitu ia melakukan hal-hal mengagumkan. Dan aku bukannya menyesal untuk mengetahui semua itu. Aku sangat beruntung.
Tapi kini aku dipaksa untuk bingung? Tidak perlu, Mevrouw, tidak perlu. Tanpa Anda paksa pun, aku sudah bingung.
“Ik zie het aan je gezicht,” Mevrouw Oosterheerd bergumam. “Saya lihat itu di wajahmu.”
Kutarik napas dalam-dalam. Baiklah, Mevrouw. “Anda telah menjebak saya, Mevrouw.” Beginilah aku akan mencoba merumuskan kebingunganku. “Anda telah bercerita tentang Helene van Rees, tentang bagaimana dia mengambil kesempatan menjadi guru bantu di Batavia, bagaimana dia kemudian diutus menjadi kepala sekolah di sini, bagaimana sikapnya terhadap diskriminasi ras, bagaimana dia menemukan jodohnya, menghadapi kelicikan kontrolir, bencana alam, dijadikan tawanan Jepang, pergi ke Suriname dan pulang dengan tangan kosong… ”
“Lanjutkan. Aku mendengarkan.”
“Anda juga telah bercerita tentang bagaimana Anda mendapatkan ibu yang luar biasa, bagaimana Anda kemudian menikah dengan anak Pieter Oosterheerd,” aku berhenti sejenak. “Mevrouw, ini adalah kisah yang—aku tidak tahu apakah ada kata lain yang bisa menggantikan ini. Komprehensif.”
Mevrouw Oosterheerd tertawa. “Ya, aku anggap itu pujian, ya?”
“Tapi cerita ini belum selesai, Mevrouw,” kini seolah-olah aku yang mengambil kendali plot kisah hidup Helene van Rees. “Apakah dituliskan dalam buku hariannya sedikit lebih banyak tentang Roekijem—pembantu yang menjadi guru bantu itu?”
Mevrouw Oosterheerd melipat kedua tangannya di dada. “Waarom vraag je dat? Mengapa kamu bertanya tentang itu?”
“Karena sepanjang Anda menceritakan kisah ini, semua tokoh selalu punya akhir yang jelas. Bahagia maupun tidak,” aku mulai menemukan ritme yang tepat. “Helene van Rees kembali ke Belanda, memiliki Anda. Pieter Oosterheerd juga kembali ke Belanda, anaknya menjadi suami Anda. Raden Soerjodikromo hilang dalam pengasingannya ke Suriname, kapalnya karam dan tidak ada satupun yang tahu apakah ia ikut dimakamkan secara massal atau hilang di samudera. Tetapi Anda meluputkan Roekijem.”
Mevrouw Oosterheerd mengangguk pelan. Aku mencoba mencari jawaban sebelum ia mengeluarkannya, mencoba mereka-reka apa yang akan ia katakan. Apakah ‘Nah untuk yang satu itu, Mama sama sekali tidak menuliskan apapun tentangnya’, atau ‘Oh iya, Roekijem, saya lupa, nah sekarang buat dudukmu lebih nyaman, saya akan ceritakan bagian itu’ dan aku akan menghabiskan sore ini hingga matahari terbenam untuk mendengar ceritanya. Tak apa, lah. Aku, kan, bisa menumpang hingga ke Yogyakarta kalau begitu.
“Saya hanya ingin tahu saja apakah Helene van Rees benar-benar tidak menceritakan Roekijem karena meski memang Roekijem bukan siapa-siapa, tetapi kukira ia punya peran besar dalam kehidupan ELS Moentilan. Roekijem tidak seharusnya begitu saja menghilang,” tambahku. “Maaf, Mevrouw, pertanyaanku mungkin tidak penting, tetapi Anda memaksa, bukan? Naluri jurnalisme-ku mencoba memenuhinya, he-he.”
Selama beberapa saat, yang ada hanya keheningan. Mevrouw Oosterheerd menatapku, aku menatapnya. Ini bagaimana?
“Mevrouw, Anda—tidak—menjawabnya?”
“Pertanyaannya?”
Habisi saja aku sekarang, Mevrouw. Anda memeras otakku! Memang seharusnya ada satu lagi yang kutanyakan. Dan hanya semesta yang tahu mengapa Mevrouw Oosterheerd bisa menebak itu. “Semua tokoh selalu punya awal yang jelas. Helene van Rees berasal dari Amsterdam, seorang perempuan muda yang baru lulus sekolah keguruan. Pieter Oosterheerd didatangkan dari Semarang. Roekijem berasal dari dusun di barat Magelang,” kuambil jeda sesaat untuk menelan ludah. Masih ada satu. “Raden Soerjodikromo? Anda bilang ia seorang bangsawan dari Yogyakarta. Tetapi itu tidak banyak menjelaskan pertanyaanku. Anda tidak menceritakan bagaimana ia bisa sampai di Muntilan, apa saja yang telah dilakukannya selain menikahi Helen van Rees dan mencetuskan ide de doos van hoop.”
Nafasku hampir habis, tetapi hanya hutan beringin yang tahu mengapa Mevrouw Oosterheerd tak kunjung menimpali. Dalam diamnya, ia seperti mendorongku terus untuk merangkai kesimpulan dan pertanyaan dari kisahnya. Ini seperti mengerjakan ujian, tapi kita sendiri yang membuat soalnya.
Dan mengapa aku masih mau meneruskan permainan ini?
“Raden Soerjodikromo diasingkan ke Suriname oleh Kontrolir Muntilan. Ia dibuang. Mungkin karena kontrolir tidak suka ELS Moentilan berjalan di luar kehendaknya. Untuk menghancurkan ELS Moentilan, berarti harus menghancurkan kepala sekolahnya. Untuk menghancurkan kepala sekolahnya, berarti perlu menghancurkan orang terkasihnya. Suaminya. Begitu yang kutangkap dari cerita Anda, Mevrouw,” lanjutku.
“Tetapi, bagaimana mungkin seorang bangsawan Yogyakarta diasingkan ke Suriname? Kukira bangsawan identik dengan lingkungan keraton—atau setidaknya masih merupakan kerabat dari Sultan. Bagaimana mungkin ini tidak mengusik lingkungan keraton dan malah melancarkan perlawanan? Aku akan agak berat di sini, Mevrouw, tetapi menurut perkiraanku, keraton punya kekuatan politik yang tidak bisa diremehkan oleh Hindia-Belanda. Dan seorang kontrolir yang setia kepada pemerintah tidak mungkin mengambil langkah gegabah untuk mengasingkan seorang bangsawan Jawa. Dan—seorang bangsawan Jawa juga tidak mungkin dengan mudahnya diasingkan. Setidaknya dia punya kuasa untuk menolak.”
Kupandang wajah teduh Mevrouw Oosterheerd yang masih memerhatikanku tanpa sepatah kata pun.
“Kecuali,” kataku, “Raden Soerjodikromo adalah seorang bangsawan pelarian, dan itu membuatnya dari seorang ‘bangsawan’ terjun bebas menjadi ‘bukan siapa-siapa’. Aku belajar sejarah, Mevrouw, dan mereka yang dikapalkan oleh Hindia-Belanda ke Afrika Selatan dan Suriname untuk dijadikan buruh kasar adalah mereka yang bukan siapa-siapa. Anak petani miskin yang pailit, juru tulis yang berkhianat, pengemis, budak, orang desa yang tidak bisa baca dan tulis, yang mana yang Raden Soerjodikromo?”
Kulipat kedua lenganku di atas meja seperti seorang kontestan cerdas cermat.
“Itu ‘kecuali’ yang pertama,” lanjutku. Semoga Mevrouw Oosterheerd tidak bosan karena ia belum menunjukkan tanda-tanda ingin angkat bicara. “Pengecualian yang kedua: Raden Soerjodikromo memang bukan seorang bangsawan. Ia bukan siapa-siapa. Ia bukan dari kalangan ningrat. Ia tidak mewarisi darah biru. Mungkin ia hanya seorang anak tukang jahit di keraton. Ia datang ke Muntilan dan membuat Helene van Rees terkesan. Meski cinta mereka nyata dan tak terbantahkan, identitas Raden Soerjodikromo tidak demikian adanya.”
Tanpa kuperkirakan sebelumnya, Mevrouw Oosterheerd mendekatkan wajahnya ke hadapaku. “Jika Raden Soerjodikromo bukan siapa-siapa, apakah berarti Raden Soerjodikromo bukan Raden Soerjodikromo?”
Mevrouw Oosterheerd pasti melihat perubahan pada keningku. Aku tidak langsung menjawabnya. Kurogoh saku dan kukeluarkan benda itu. “Foto ini kupungut tadi ketika beberapa koin jatuh dari peti besi yang sedang ditandu,” kumajukan foto itu sehingga Mevrouw Oosterheerd dapat melihatnya lebih jelas. “Foto ini tidak lengkap, bagian atasnya sobek entah ke mana, tetapi kemungkinan besar—dan aku yakin—dua orang di foto ini adalah Helene van Rees dan Raden Soerjodikromo. Bagaimana menurut Mevrouw?”
Mevrouw Oosterheerd mengangguk pelan, untuk ke sekian kalinya. Aku tidak sabar untuk menunggunya mengatakan sesuatu, jadi kuambil lagi giliran bicaraku. “Kisah yang komprehensif, Mevrouw, tetapi tidak cukup menjelaskan mengapa Roekijem tiba-tiba hilang dan Raden Soerjodikromo tiba-tiba muncul dengan identitas yang diragukan. Aku percaya Helene van Rees tidak mudah melupakan detail,” jelasku. “Bagaimana mungkin seorang bangsawan Jawa dibuang begitu saja ke Suriname, kecuali kalau dia memang bukan seorang bangsawan, seorang penipu kelas ulung, seorang yang bukan siapa-siapa, seorang—”
Tenggorokanku tercekat, menyadari kesimpulan yang baru saja kubuat sendiri. Ini kemungkinan yang paling tidak mungkin, tetapi ini dapat menjelaskan mengapa—
“Apakah kamu sudah dapat menjelaskan mengapa Roekijem tiba-tiba hilang dan Raden Soerjodikromo tiba-tiba muncul dengan identitas yang diragukan?” tanya Mevrouw Oosterheerd dengan pandangannya yang lembut namun menembus lensa kacamataku.
Pembaca pikiran.
Mevrouw Oosterheerd kembali menunduk, membuka laci, mengeluarkan buku harian Helene van Rees. Kali ini ia membukanya. Ketika sampul kulit bagian depan dibuka, ada celah yang biasa digunakan untuk menyisipkan kertas-kertas kecil.
Ia mengeluarkan potongan foto yang satunya!
“Saya kira foto ini tak sengaja terpotong. Lalu terbuang,” ujar Mevrouw Oosterheerd lembut seraya mencoba menyatukan kedua potongan menjadi satu foto yang utuh. “Ternyata disimpannya foto ini di de doos van hoop. Ah, Mama.”
Aku tak percaya apa yang kulihat.
“Nah,” gumamnya. “Selesai.”
Kedua potongan telah disatukan, kini aku dapat melihat dengan utuh sosok Helene van Rees dan Raden Soerjodikromo. Rambut pirang digelung, senyum keibuan, gaun bermotif bunga-bunga selutut, sepatu flat, itu adalah Helene van Rees.
Sedangkan belangkon, beskap putih, kain batik setumit, selop hitam, inilah Raden Soerjodikromo. Penampilannya begitu gagah, pantas disandingkan dengan Helene van Rees. Tetapi bangsawan ini tidak cukup pandai menyembunyikan siluet yang menunjukkan tonjolan di dadanya, juga lekuk pinggulnya di balik potongan belahan beskap, termasuk juga posisi belangkon yang agak naik karena harus pula melindungi rambut yang digelung ke atas, dan yang paling membuatku yakin—wajah manisnya yang bersih dari kumis dan janggut, yang memancarkan pandangan teduh seorang perempuan Jawa muda. Sebuah citra keterpesonaan dan rasa pilu dalam bentuknya yang maskulin. Roekijem, pembantu dari dusun barat Magelang itu.
Tuntas sudah keraguanku.
“Roekijem bukan penipu yang ulung,” Mevrouw Oosterheerd memutar kursinya ke arah teras di mana pekarangan sudah tidak begitu ramai, hanya ada beberapa orang berkeliling. “Bahkan, Mama jatuh cinta jauh sebelum Roekijem memutuskan untuk mengenakan pakaian laki-laki. Ia mulai mengenakan belangkon dan beskap—juga terkadang kemeja dan celana panjang—setelah mendapat persetujuan dari Mama. Baru setelah itu mereka menikah di gereja, tanpa pendeta pun mengetahui bahwa yang dinikahkannya adalah dua orang perempuan,” Mevrouw Oosterheerd terkekeh. “Inilah mengapa Roekijem hilang tanpa keterangan dan Raden Soerjodikromo datang tanpa asal-usul yang kurang meyakinkan. Karena mereka saling melanjutkan.
“Roekijem adalah Raden Soerjodikromo—seorang bangsawan Jawa, seorang suami, seorang teman hidup—tetapi itu hanya ada di dunia Mama. Sedangkan bagi semua orang—termasuk kontrolir Moentilan—Raden Soerjodikromo tetaplah Roekijem si pembantu dari dusun barat Magelang yang tidak punya daya kuasa. Suatu ketika dalam keadaan serba luntang-lantung di kamp pengungsian bencana Gunung Merapi 1930, anak buah kontrolir Moentilan menjemput beberapa orang secara paksa. Termasuk dalam daftar adalah Roekijem.”
“Namiddag thee? Teh sore?” Mevrouw Oosterheerd menuangkan teh yang hangat ke cangkir kami. “Dengan sedikit bunga melati untuk aroma, usul dari Soleh. Ternyata enak juga. Harusnya kusediakan bersama strudel apel. Baru sempurna,” ia mulai menyesap tehnya. “Pekerja baru saja selesai membongkar loteng menjadi rooftop. Aku berencana membuat kafereria di sana. Bagaimana menurutmu?”
Kuhabiskan teh cepat-cepat. Mevrouw Oosterheerd hendak mengangkat poci, tetapi aku menggelengkan kepala. Cangkir kosong yang masih menyisahakan kehangatannya itu hanya kupegang erat-erat.
Mevrouw Oosterheerd kini jauh lebih hangat dari sebelum-sebelumnya. Layaknya keluarga lama yang datang berjumpa, aku terus dilayaninya meski banyak tamu penting yang ingin bercakap-cakap dengannya seputar de doos van hoop. Mungkin aku orang pertama yang berhasil memecahkan teka-tekinya, itulah sebabnya. Mungkin pula ia hanya butuh teman bicara untuk kisah yang di luar batas duga ini.
Namun aku tak tega melihat Soleh bolak-balik mendapat penolakan dari Mevrouw Oosterheerd. Aku pun meminta diri, kukatakan ingin mencari udara segar, melihat matahari terbenam. Apapun.
“Ambillah foto ini bersamamu,” ujarnya sambil membuka telapak tanganku. “Tulis apapun yang kamu inginkan. Lihat apa yang cinta kasih dapat lakukan pada sekolah ini, pada de doos van hoop. Lihat dirimu.”
Mevrouw Oosterheerd memelukku untuk beberapa saat. Tubuhnya yang mungil mengharuskanku untuk membungkuk sedikit. Berikutnya adalah hal-hal yang tidak kupedulikan, seperti beberapa jurnalis yang menghampiriku, mencecar dengan pertanyaan seputar apa yang sudah kubicarakan dengan Mevrouw Oosterheerd dengan begitu lamanya di dalam ruangan itu. Kukatakan saja seputar masa depan museum ELS Moentilan. Tapi aku tak tertarik untuk melanjutkan ketika mereka memintaku untuk berbagi rekaman. Apakah karena aku terlihat seperti jurnalis ingusan di mata mereka?
Jika kutub utara dan selatan ingin dipertukarkan, jika badai siklon sudah pada titik potensialnya, jika Gunung Merapi sudah tidak sanggup menahan tekanan, jika laju meteor raksasa yang keluar jalur sudah memasuki orbit bumi, kuharapkan semuanya terjadi saat ini juga.
Memang betul ternyata bahwa terkadang kebenaranlah yang justru membuat kita tercekat. Terang bukan berarti jelas. Selesai bukan berarti tuntas. Seperti jalan raya di perkotaan, persimpangan selalu menuntunmu ke persimpangan berikutnya. Kau hanya perlu sabar menunggu lampu berubah hijau. Belok kiri langsung.
Kehidupan ini jauh lebih misterius dari kelihaian Mevrouw Oosterheerd yang membuatku hampir yakin ia dapat membaca pikiran. Kehidupan—dengan caranya sendiri—dapat memancarkan sinyal yang mampu membuat kita seperti narapidana dalam pelarian yang tiba-tiba terkena lampu sorot dari menara pengawas.
Secepat apapun kita berlari, sejauh apapun berita harus dikejar, sesibuk apapun pekerjaan yang tidak berbayar ini meski diiming-imingi kenaikan kasta dan publikasi, kita tidak pernah benar-benar meninggalkan sesuatu.
Semesta takkan pernah lupa identitas yang selama ini kita sembunyikan dari terangnya dunia. Ia akan datang suatu ketika sebagai pengingat yang mencerahkan—atau justru mengaburkan.
Bagiku, ia datang hari ini. Di puncak bukit hutan beringin sebuah kota kecil bernama Muntilan, di dalam sebuah bangunan neoclassic bekas sekolah dasar milik peremintah kolonial, di tengah gegap gempita penemuan kapsul waktu de doos van hoop, di antara hiruk-pikuk pemuda pramuka pilihan sultan, di seputar rasa keingintahuan wartawan segala media, juga di balik keramah-tamahan seorang ahli waris sekaligus calon kurator museum ELS Moentilan, Jasmijn Oosterheerd.
Bisingnya dunia serasa kedap di telingaku. Kesunyian adalah sebentuk baru dari kegaduhan itu sendiri. Berdegung bebas. Tanda tanya berguguran. Tanda seru terlalu dini untuk dilencangkan. Yang tersisa hanyalah titik… titik… titik…
Aku menyimak pesanmu.
BAGIAN SATU SELESAI
