Bagian Satu #8 (Selesai)

(Previous)

Sambil mendengarkan rekaman wawancara tadi pagi, kutunggu sang arkeolog dan timnya keluar dari ruangan Mevrouw Oosterheerd. Tak lama kemudian, dengan langkah cepat dan tampang sedingin es, mereka melintas di depanku, masuk ke mobil Xenia hitam, menghilang di balik pohon oak. Bagaimana bisa mobil melewati jalan setapak pinggir pematang sawah? Entahlah, bukan urusanku. Mereka pasti melalui jalan lain di punggung bukit, mungkin harus memutar di antara hutan beringin.

Bureaucraat!” gerutu Mevrouw Oosterheerd dari balik mejanya. “Kalau saja suamiku masih hidup, dia pasti akan menghajar mereka habis-habisan. Orang tua kami yang membangun tempat ini dengan jerih payah dan kesabaran, seenaknya mereka datang meminta komisi,” semburnya. “Orang-orang birokrat itu semua digaji negara, tetapi mereka tidak pernah lelah meminta komisi di bawah tangan. Dana keamanan, lah, dana asuransi, lah. Mereka kira aku tidak tahu bagaimana hukum di negara ini berjalan?”

Senyum kecil mengembang di wajahku. Hukum—apapun definisinya—adalah sampah yang tengah kupelajari selama hampir satu tahun terakhir.

“Mereka membawa serta de doos van hoop?” tanyaku sambil menutup pintu.

Mevrouw Oosterheerd menggeleng. “Memang begitu rencananya awalnya. Tetapi setelah mereka mengajukan lembar tagihan dan memintaku menandatangani surat perjanjian, saya langsung menolaknya. Mereka kira saya menjual barang-barang ini? Lekas saja saya kehilangan kepercayaanku kepada mereka. Jika memang Dinas Purbakala perlu melihat barang-barang ini, kuminta direktur mereka langsung yang datang ke sini,” ujarnya dengan nada tinggi. “Atau kalau perlu, saya sendiri dan anak-anak pramuka yang membawanya ke sana. Mereka jauh lebih kupercaya dibanding birokrat purbakala.”

Aku hanya mengangguk. Mevrouw Oosterheerd membuka pintu lemari kayu. Ternyata di sanalah ia menyimpan de doos van hoop beserta isinya, di dalam sebuah kotak plastik berwarna oranye yang sedikit lebih besar. “Kamu tahu tempat yang lebih aman dari Dinas Purbakala?”

Tebakan asal. “Ruang bawah tanah?”

“Seandainya bangunan ini punya—ya. Tapi, kan, nyatanya tidak,” Mevrouw Oosterheerd menutup kotak oranye rapat-rapat. “Keraton, Nak.”

Mataku terbelalak. “Anda—Anda akan membawanya ke keraton? Sekarang?”

“Inilah mengapa aku sayang dengan anak-anak pramuka. Mereka itu bala bantuan dari Sultan. Kamu harus menjalin hubungan baik dengan orang-orang yang baik, jadi begini hasilnya,” ujarnya dengan wajah yang lebih hangat, sepertinya dengan cepat ia sudah melupakan orang-orang Dinas Purbakala. “Kami akan pergi ke kota nanti sore. Mereka bisa menunggu, lagipula mereka butuh istirahat sejenak. Hari ini begitu melelahkan bagi kita semua. Dan—kita punya urusan yang belum selesai, bukan?”

Aku sudah menunggu-nunggu saat ini. “Mevrouw, sebenarnya saya punya pertanyaan.”

“Bagus.”

“Tapi saya tidak tahu bagaimana mempertanyakannya.”

“Ayolah, Nak, ini bukan kelas filsafat,” timpal Mevrouw Oosterheerd ringan. “Kamu, kan jurnalis. Saya narasumbernya. Begitu seharusnya kita berperan, bukan?” ujarnya sambil melempar senyum yang penuh penafsiran. Entah apakah Mevrouw Oosterheerd dapat menerawang isi kepalaku atau ia hanya pura-pura tahu aku sedang kebingungan.

“Tadi Anda bilang ceritanya belum selesai, Mevrouw?

Mevrouw Oosterheerd menggeleng mantap. “Saya tadi bilang kita belum selesai. Sekarang giliran kamu yang berbicara. Ayo, tanya. Saya tahu kamu punya pertanyaan.”

Mengapa seolah-olah cerita ini jadi begitu penting untuk kami berdua? Aku, kan, hanya datang untuk dapat berita tentang penggalian kapsul waktu di belakang sekolah tua di Muntilan, supaya aku bisa menulis laporan perjalanan yang belum pernah ada sebelumnya dan membuat Lintang—pemimpin redaksiku—dan jajaran staf Majalah Periskop beserta segenap pembaca terkagum-kagum dan aku naik kasta. Ternyata aku harus mendengar kisah yang dimulai jauh sebelum kapsul waktu ditanam, sebuah kisah yang begitu pelik. Harus kuakui bahwa Helene van Rees mengalami banyak kepahitan dalam hidupnya, meski begitu ia melakukan hal-hal mengagumkan. Dan aku bukannya menyesal untuk mengetahui semua itu. Aku sangat beruntung.

Tapi kini aku dipaksa untuk bingung? Tidak perlu, Mevrouw, tidak perlu. Tanpa Anda paksa pun, aku sudah bingung.

Ik zie het aan je gezicht,” Mevrouw Oosterheerd bergumam. “Saya lihat itu di wajahmu.”

Kutarik napas dalam-dalam. Baiklah, Mevrouw. “Anda telah menjebak saya, Mevrouw.” Beginilah aku akan mencoba merumuskan kebingunganku. “Anda telah bercerita tentang Helene van Rees, tentang bagaimana dia mengambil kesempatan menjadi guru bantu di Batavia, bagaimana dia kemudian diutus menjadi kepala sekolah di sini, bagaimana sikapnya terhadap diskriminasi ras, bagaimana dia menemukan jodohnya, menghadapi kelicikan kontrolir, bencana alam, dijadikan tawanan Jepang, pergi ke Suriname dan pulang dengan tangan kosong… ”

“Lanjutkan. Aku mendengarkan.”

“Anda juga telah bercerita tentang bagaimana Anda mendapatkan ibu yang luar biasa, bagaimana Anda kemudian menikah dengan anak Pieter Oosterheerd,” aku berhenti sejenak. “Mevrouw, ini adalah kisah yang—aku tidak tahu apakah ada kata lain yang bisa menggantikan ini. Komprehensif.”

Mevrouw Oosterheerd tertawa. “Ya, aku anggap itu pujian, ya?”

“Tapi cerita ini belum selesai, Mevrouw,” kini seolah-olah aku yang mengambil kendali plot kisah hidup Helene van Rees. “Apakah dituliskan dalam buku hariannya sedikit lebih banyak tentang Roekijem—pembantu yang menjadi guru bantu itu?”

Mevrouw Oosterheerd melipat kedua tangannya di dada. “Waarom vraag je dat? Mengapa kamu bertanya tentang itu?”

“Karena sepanjang Anda menceritakan kisah ini, semua tokoh selalu punya akhir yang jelas. Bahagia maupun tidak,” aku mulai menemukan ritme yang tepat. “Helene van Rees kembali ke Belanda, memiliki Anda. Pieter Oosterheerd juga kembali ke Belanda, anaknya menjadi suami Anda. Raden Soerjodikromo hilang dalam pengasingannya ke Suriname, kapalnya karam dan tidak ada satupun yang tahu apakah ia ikut dimakamkan secara massal atau hilang di samudera. Tetapi Anda meluputkan Roekijem.”

Mevrouw Oosterheerd mengangguk pelan. Aku mencoba mencari jawaban sebelum ia mengeluarkannya, mencoba mereka-reka apa yang akan ia katakan. Apakah ‘Nah untuk yang satu itu, Mama sama sekali tidak menuliskan apapun tentangnya’, atau ‘Oh iya, Roekijem, saya lupa, nah sekarang buat dudukmu lebih nyaman, saya akan ceritakan bagian itu’ dan aku akan menghabiskan sore ini hingga matahari terbenam untuk mendengar ceritanya. Tak apa, lah. Aku, kan, bisa menumpang hingga ke Yogyakarta kalau begitu.

“Saya hanya ingin tahu saja apakah Helene van Rees benar-benar tidak menceritakan Roekijem karena meski memang Roekijem bukan siapa-siapa, tetapi kukira ia punya peran besar dalam kehidupan ELS Moentilan. Roekijem tidak seharusnya begitu saja menghilang,” tambahku. “Maaf, Mevrouw, pertanyaanku mungkin tidak penting, tetapi Anda memaksa, bukan? Naluri jurnalisme-ku mencoba memenuhinya, he-he.”

Selama beberapa saat, yang ada hanya keheningan. Mevrouw Oosterheerd menatapku, aku menatapnya. Ini bagaimana?

Mevrouw, Anda—tidak—menjawabnya?”

“Pertanyaannya?”

Habisi saja aku sekarang, Mevrouw. Anda memeras otakku! Memang seharusnya ada satu lagi yang kutanyakan. Dan hanya semesta yang tahu mengapa Mevrouw Oosterheerd bisa menebak itu. “Semua tokoh selalu punya awal yang jelas. Helene van Rees berasal dari Amsterdam, seorang perempuan muda yang baru lulus sekolah keguruan. Pieter Oosterheerd didatangkan dari Semarang. Roekijem berasal dari dusun di barat Magelang,” kuambil jeda sesaat untuk menelan ludah. Masih ada satu. “Raden Soerjodikromo? Anda bilang ia seorang bangsawan dari Yogyakarta. Tetapi itu tidak banyak menjelaskan pertanyaanku. Anda tidak menceritakan bagaimana ia bisa sampai di Muntilan, apa saja yang telah dilakukannya selain menikahi Helen van Rees dan mencetuskan ide de doos van hoop.”

Nafasku hampir habis, tetapi hanya hutan beringin yang tahu mengapa Mevrouw Oosterheerd tak kunjung menimpali. Dalam diamnya, ia seperti mendorongku terus untuk merangkai kesimpulan dan pertanyaan dari kisahnya. Ini seperti mengerjakan ujian, tapi kita sendiri yang membuat soalnya.

Dan mengapa aku masih mau meneruskan permainan ini?

“Raden Soerjodikromo diasingkan ke Suriname oleh Kontrolir Muntilan. Ia dibuang. Mungkin karena kontrolir tidak suka ELS Moentilan berjalan di luar kehendaknya. Untuk menghancurkan ELS Moentilan, berarti harus menghancurkan kepala sekolahnya. Untuk menghancurkan kepala sekolahnya, berarti perlu menghancurkan orang terkasihnya. Suaminya. Begitu yang kutangkap dari cerita Anda, Mevrouw,” lanjutku.

“Tetapi, bagaimana mungkin seorang bangsawan Yogyakarta diasingkan ke Suriname? Kukira bangsawan identik dengan lingkungan keraton—atau setidaknya masih merupakan kerabat dari Sultan. Bagaimana mungkin ini tidak mengusik lingkungan keraton dan malah melancarkan perlawanan? Aku akan agak berat di sini, Mevrouw, tetapi menurut perkiraanku, keraton punya kekuatan politik yang tidak bisa diremehkan oleh Hindia-Belanda. Dan seorang kontrolir yang setia kepada pemerintah tidak mungkin mengambil langkah gegabah untuk mengasingkan seorang bangsawan Jawa. Dan—seorang bangsawan Jawa juga tidak mungkin dengan mudahnya diasingkan. Setidaknya dia punya kuasa untuk menolak.”

Kupandang wajah teduh Mevrouw Oosterheerd yang masih memerhatikanku tanpa sepatah kata pun.

“Kecuali,” kataku, “Raden Soerjodikromo adalah seorang bangsawan pelarian, dan itu membuatnya dari seorang ‘bangsawan’ terjun bebas menjadi ‘bukan siapa-siapa’. Aku belajar sejarah, Mevrouw, dan mereka yang dikapalkan oleh Hindia-Belanda ke Afrika Selatan dan Suriname untuk dijadikan buruh kasar adalah mereka yang bukan siapa-siapa. Anak petani miskin yang pailit, juru tulis yang berkhianat, pengemis, budak, orang desa yang tidak bisa baca dan tulis, yang mana yang Raden Soerjodikromo?”

Kulipat kedua lenganku di atas meja seperti seorang kontestan cerdas cermat.

“Itu ‘kecuali’ yang pertama,” lanjutku. Semoga Mevrouw Oosterheerd tidak bosan karena ia belum menunjukkan tanda-tanda ingin angkat bicara. “Pengecualian yang kedua: Raden Soerjodikromo memang bukan seorang bangsawan. Ia bukan siapa-siapa. Ia bukan dari kalangan ningrat. Ia tidak mewarisi darah biru. Mungkin ia hanya seorang anak tukang jahit di keraton. Ia datang ke Muntilan dan membuat Helene van Rees terkesan. Meski cinta mereka nyata dan tak terbantahkan, identitas Raden Soerjodikromo tidak demikian adanya.”

Tanpa kuperkirakan sebelumnya, Mevrouw Oosterheerd mendekatkan wajahnya ke hadapaku. “Jika Raden Soerjodikromo bukan siapa-siapa, apakah berarti Raden Soerjodikromo bukan Raden Soerjodikromo?”

Mevrouw Oosterheerd pasti melihat perubahan pada keningku. Aku tidak langsung menjawabnya. Kurogoh saku dan kukeluarkan benda itu. “Foto ini kupungut tadi ketika beberapa koin jatuh dari peti besi yang sedang ditandu,” kumajukan foto itu sehingga Mevrouw Oosterheerd dapat melihatnya lebih jelas. “Foto ini tidak lengkap, bagian atasnya sobek entah ke mana, tetapi kemungkinan besar—dan aku yakin—dua orang di foto ini adalah Helene van Rees dan Raden Soerjodikromo. Bagaimana menurut Mevrouw?”

Mevrouw Oosterheerd mengangguk pelan, untuk ke sekian kalinya. Aku tidak sabar untuk menunggunya mengatakan sesuatu, jadi kuambil lagi giliran bicaraku. “Kisah yang komprehensif, Mevrouw, tetapi tidak cukup menjelaskan mengapa Roekijem tiba-tiba hilang dan Raden Soerjodikromo tiba-tiba muncul dengan identitas yang diragukan. Aku percaya Helene van Rees tidak mudah melupakan detail,” jelasku. “Bagaimana mungkin seorang bangsawan Jawa dibuang begitu saja ke Suriname, kecuali kalau dia memang bukan seorang bangsawan, seorang penipu kelas ulung, seorang yang bukan siapa-siapa, seorang—”

 Tenggorokanku tercekat, menyadari kesimpulan yang baru saja kubuat sendiri. Ini kemungkinan yang paling tidak mungkin, tetapi ini dapat menjelaskan mengapa—

“Apakah kamu sudah dapat menjelaskan mengapa Roekijem tiba-tiba hilang dan Raden Soerjodikromo tiba-tiba muncul dengan identitas yang diragukan?” tanya Mevrouw Oosterheerd dengan pandangannya yang lembut namun menembus lensa kacamataku.

Pembaca pikiran.

Mevrouw Oosterheerd kembali menunduk, membuka laci, mengeluarkan buku harian Helene van Rees. Kali ini ia membukanya. Ketika sampul kulit bagian depan dibuka, ada celah yang biasa digunakan untuk menyisipkan kertas-kertas kecil.

Ia mengeluarkan potongan foto yang satunya!

“Saya kira foto ini tak sengaja terpotong. Lalu terbuang,” ujar Mevrouw Oosterheerd lembut seraya mencoba menyatukan kedua potongan menjadi satu foto yang utuh. “Ternyata disimpannya foto ini di de doos van hoop. Ah, Mama.”

Aku tak percaya apa yang kulihat.

“Nah,” gumamnya. “Selesai.”

Kedua potongan telah disatukan, kini aku dapat melihat dengan utuh sosok Helene van Rees dan Raden Soerjodikromo. Rambut pirang digelung, senyum keibuan, gaun bermotif bunga-bunga selutut, sepatu flat, itu adalah Helene van Rees.

Sedangkan belangkon, beskap putih, kain batik setumit, selop hitam, inilah Raden Soerjodikromo. Penampilannya begitu gagah, pantas disandingkan dengan Helene van Rees. Tetapi bangsawan ini tidak cukup pandai menyembunyikan siluet yang menunjukkan tonjolan di dadanya, juga lekuk pinggulnya di balik potongan belahan beskap, termasuk juga posisi belangkon yang agak naik karena harus pula melindungi rambut yang digelung ke atas, dan yang paling membuatku yakin—wajah manisnya yang bersih dari kumis dan janggut, yang memancarkan pandangan teduh seorang perempuan Jawa muda. Sebuah citra keterpesonaan dan rasa pilu dalam bentuknya yang maskulin. Roekijem, pembantu dari dusun barat Magelang itu.

Tuntas sudah keraguanku.

“Roekijem bukan penipu yang ulung,” Mevrouw Oosterheerd memutar kursinya ke arah teras di mana pekarangan sudah tidak begitu ramai, hanya ada beberapa orang berkeliling. “Bahkan, Mama jatuh cinta jauh sebelum Roekijem memutuskan untuk mengenakan pakaian laki-laki. Ia mulai mengenakan belangkon dan beskap—juga terkadang kemeja dan celana panjang—setelah mendapat persetujuan dari Mama. Baru setelah itu mereka menikah di gereja, tanpa pendeta pun mengetahui bahwa yang dinikahkannya adalah dua orang perempuan,” Mevrouw Oosterheerd terkekeh. “Inilah mengapa Roekijem hilang tanpa keterangan dan Raden Soerjodikromo datang tanpa asal-usul yang kurang meyakinkan. Karena mereka saling melanjutkan.

“Roekijem adalah Raden Soerjodikromo—seorang bangsawan Jawa, seorang suami, seorang teman hidup—tetapi itu hanya ada di dunia Mama. Sedangkan bagi semua orang—termasuk kontrolir Moentilan—Raden Soerjodikromo tetaplah Roekijem si pembantu dari dusun barat Magelang yang tidak punya daya kuasa. Suatu ketika dalam keadaan serba luntang-lantung di kamp pengungsian bencana Gunung Merapi 1930, anak buah kontrolir Moentilan menjemput beberapa orang secara paksa. Termasuk dalam daftar adalah Roekijem.”

 

Namiddag thee? Teh sore?” Mevrouw Oosterheerd menuangkan teh yang hangat ke cangkir kami. “Dengan sedikit bunga melati untuk aroma, usul dari Soleh. Ternyata enak juga. Harusnya kusediakan bersama strudel apel. Baru sempurna,” ia mulai menyesap tehnya. “Pekerja baru saja selesai membongkar loteng menjadi rooftop. Aku berencana membuat kafereria di sana. Bagaimana menurutmu?”

Kuhabiskan teh cepat-cepat. Mevrouw Oosterheerd hendak mengangkat poci, tetapi aku menggelengkan kepala. Cangkir kosong yang masih menyisahakan kehangatannya itu hanya kupegang erat-erat.

Mevrouw Oosterheerd kini jauh lebih hangat dari sebelum-sebelumnya. Layaknya keluarga lama yang datang berjumpa, aku terus dilayaninya meski banyak tamu penting yang ingin bercakap-cakap dengannya seputar de doos van hoop. Mungkin aku orang pertama yang berhasil memecahkan teka-tekinya, itulah sebabnya. Mungkin pula ia hanya butuh teman bicara untuk kisah yang di luar batas duga ini.

Namun aku tak tega melihat Soleh bolak-balik mendapat penolakan dari Mevrouw Oosterheerd. Aku pun meminta diri, kukatakan ingin mencari udara segar, melihat matahari terbenam. Apapun.

“Ambillah foto ini bersamamu,” ujarnya sambil membuka  telapak tanganku. “Tulis apapun yang kamu inginkan. Lihat apa yang cinta kasih dapat lakukan pada sekolah ini, pada de doos van hoop. Lihat dirimu.”

Mevrouw Oosterheerd memelukku untuk beberapa saat. Tubuhnya yang mungil mengharuskanku untuk membungkuk sedikit. Berikutnya adalah hal-hal yang tidak kupedulikan, seperti beberapa jurnalis yang menghampiriku, mencecar dengan pertanyaan seputar apa yang sudah kubicarakan dengan Mevrouw Oosterheerd dengan begitu lamanya di dalam ruangan itu. Kukatakan saja seputar masa depan museum ELS Moentilan. Tapi aku tak tertarik untuk melanjutkan ketika mereka memintaku untuk berbagi rekaman. Apakah karena aku terlihat seperti jurnalis ingusan di mata mereka?

Jika kutub utara dan selatan ingin dipertukarkan, jika badai siklon sudah pada titik potensialnya, jika Gunung Merapi sudah tidak sanggup menahan tekanan, jika laju meteor raksasa yang keluar jalur sudah memasuki orbit bumi, kuharapkan semuanya terjadi saat ini juga.

Memang betul ternyata bahwa terkadang kebenaranlah yang justru membuat kita tercekat. Terang bukan berarti jelas. Selesai bukan berarti tuntas. Seperti jalan raya di perkotaan, persimpangan selalu menuntunmu ke persimpangan berikutnya. Kau hanya perlu sabar menunggu lampu berubah hijau. Belok kiri langsung.

Kehidupan ini jauh lebih misterius dari kelihaian Mevrouw Oosterheerd yang membuatku hampir yakin ia dapat membaca pikiran. Kehidupan—dengan caranya sendiri—dapat memancarkan sinyal yang mampu membuat kita seperti narapidana dalam pelarian yang tiba-tiba terkena lampu sorot dari menara pengawas.

Secepat apapun kita berlari, sejauh apapun berita harus dikejar, sesibuk apapun pekerjaan yang tidak berbayar ini meski diiming-imingi kenaikan kasta dan publikasi, kita tidak pernah benar-benar meninggalkan sesuatu.

Semesta takkan pernah lupa identitas yang selama ini kita sembunyikan dari terangnya dunia. Ia akan datang suatu ketika sebagai pengingat yang mencerahkan—atau justru mengaburkan.

Bagiku, ia datang hari ini. Di puncak bukit hutan beringin sebuah kota kecil bernama Muntilan, di dalam sebuah bangunan neoclassic bekas sekolah dasar milik peremintah kolonial, di tengah gegap gempita penemuan kapsul waktu de doos van hoop, di antara hiruk-pikuk pemuda pramuka pilihan sultan, di seputar rasa keingintahuan wartawan segala media, juga di balik keramah-tamahan seorang ahli waris sekaligus calon kurator museum ELS Moentilan, Jasmijn Oosterheerd.

Bisingnya dunia serasa kedap di telingaku. Kesunyian adalah sebentuk baru dari kegaduhan itu sendiri. Berdegung bebas. Tanda tanya berguguran. Tanda seru terlalu dini untuk dilencangkan. Yang tersisa hanyalah titik… titik… titik…

Aku menyimak pesanmu.

 

BAGIAN SATU SELESAI

Bagian Satu #7

(Previous)

Ada dua jenis manusia yang hidup di atas bumi: mereka yang menghargai waktu dan mereka yang merugikan orang yang menghargai waktu. Sang arkeolog dan timnya termasuk yang kedua. Selepas makan siang, kira-kira dua jam setelah kericuhan singkat tadi, meja konferensi di pekarangan belakang ELS Moentilan barulah terisi penuh. Mevrouw Oosterheerd duduk dengan sabar, hanya itu yang dapat kupantau dari wajahnya.

Di atas meja yang dilapisi plastik transparan, benda-benda yang telah didata dan dibersihkan ditata rapi. Ada banyak sekali benda dengan berbagai bentuk dan ukuran. Sementara Mevrouw Oosterheerd bercerita tentang asal-usul de doos van hoop, aku sibuk mencatat apa saja yang ada di sana.

Sejauh ini ada enam yang telah kucatat. Pertama, boneka perempuan Belanda seukuran kepalan tangan, mengenakan baju tradisional Volendam (nampaknya jahitan sendiri) dengan renda dan motif bunga-bunga, rambut pirang terkepang, tak lupa topi bonnet putih dengan dua sayap mencuat di kedua sisi, serta rok bergaris.

Kedua, selembar uang kertas senilai 5 gulden keluaran De Javasche Bank pada 31 Oktober 1901 bergambar Jan Pieterszoon Coen. Di sisi kanan bawah terbubuhi tanda tangan A. F. van Suchtelen dan G. Vissering. Siapapun yang meletakkan uang ini di de doos van hoop, pastilah berasal dari keluarga saudagar kaya pada masanya.

Ketiga, sebuah cundrik—keris berukuran kecil—sepanjang ujung jari manis hingga pergelangan tangan. Warna bilahnya hitam legam seperti batu meteorit, terukir indah dengan 13 luk yang melambangkan kedamaian dan keseimbangan hidup. Warangkanya—sarung cundrik—terbuat dari tembaga, dihiasi ukiran-ukiran mendetail, sedangkan gagangnya berbentuk tunggak semi Jogja berwarna coklat tua.

Keempat, buku belajar membaca untuk siswa tahun pertama berjudul Omte Leren Lezen, dengan gambar sampul berupa anak-anak berambut pirang sedang bermain lompat tali. Mungkin pemiliknya sempat mengalami dilema, apakah buku ini akan disumbangkan ke adik kelas atau didedikasikan untuk de doos van hoop. Untung saja ia memilih yang kedua, ya, kan?

Kelima, ini yang paling aku suka, amplop besar berisikan foto-foto ELS Moentilan pada tahun 1912. Dalam sebuah foto bersama, anak-anak Jawa, dengan dahi hitam mengilat, mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beskap berwarna kelabu dan belangkon untuk anak laki-laki, kebaya putih dan rambut disanggul untuk anak perempuan. Anak-anak Tionghoa dengan baju koko dengan kerah tinggi, ada juga yang memakain kaus oblong. Anak-anak Belanda mengenakan celana pendek, rok selutut, dan kemeja berwarna terang. Di salah satu sudut berdiri seorang perempuan—Mevrouw Oosterheerd sudah mengonfirmasi bahwa itu adalah kepala sekolah Helene van Rees, sedangkan di ujung lainnya ada pria jangkung dengan setelan yang tak kalah rapi, seorang guru ilmu hitung, Pieter Oosterheerd.

Keenam, sehelai kain putih yang cukup lebar untuk diisi murid-murid angkatan pertama ELS Moentilan dengan tulisan berbagai bahasa: Jawa, Mandarin, Belanda, bahkan Melayu. Ada pula yang membubuhi tanda tangan, menggambar, memberi cap tangan.

“Penemuan sejarah tidak pernah menggegerkan negara dalam dua puluh tahun terakhir,” ujar sang arkeolog, penuh retorika politik, menurutku. “Hari ini, kita dibangunkan oleh fakta sejarah. Hari ini, kita diingatkan oleh pendahulu kita, pelajar-pelajar kecil yang menghadiahi kita pesan perdamaian. Bukan begitu, Mevrouw?”

Mevrouw Oosterheerd mengangguk pelan. Di usianya yang sudah sangat lanjut, sebuah tugas mulia telah berhasil diselesaikannya dengan manis. Mungkin hanya ini perintaan Helene van Rees kepadanya dalam surat wasiat, atau setidaknya demikianlah kesadaran logis Mevrouw Oosterheerd setelah menemukan buku harian ibunya.

Namun selesai hari ini bukan berarti selesai selamanya. Setelah ini, ELS Moentilan akan dibuka sebagai museum. Bayangkan sebuah museum di sebuah bukit di kota kecil di Jawa Tengah dikuratori oleh seorang perempuan Belanda berusia 79 tahun. Ini bukan tugas yang sekali kerja langsung selesai, Mevrouw.

Demikian pula cerita yang dituturkannya, masih mengambang di kepalaku seperti kubangan air di wadah pencuci piring yang berputar-putar pelan, membentuk pusaran, namun tak kunjung surut karena salurannya tersumbat.

Bahkan sebelum ia memanggilku dari teras tadi pagi, aku sudah tahu bahwa kami belum selesai. Oh, Mevrouw.

(Next)

Lintang Waluku

Pagi itu, lintang waluku tidak muncul

Terjaga di bawah langit selatan, kami saling menerka

Siapa yang sedang berpikir

Siapa yang sedang merasa

 

Lengan merangkul, jemari membeku

Tangan menggenggam, benak mengembara

Oh batara kala, dunia di atasmu begitu luas

Namun mengapa hanya dia yang kutahu betul?

 

Berbisik lirih, khayalan masa kecil

Pulau terpencil, peta harta karun

Lempar pandang sembunyi mata

Menggapai udara, tanya lebih tinggi!

 

Mengapa permainan perlu dimenangkan?

Ketar-ketir pengecut peran sosial

Emulsi ambisi, oksidasi cita-cita

Ketika dua melawan dunia, baiknya kalah atau mengalah?

 

Wahai cermin, semua ini salahmu

Pantulan kepalsuan, refleksi kepura-puraan

Tersentak, bergeming, percaya

Gara-garamu, kini ku bercermin di matanya

 

Lesaplah wahai rasa

Omong kosong dunia-milik-berdua

Tanah ini milik mereka yang dibenarkan

Ambil saja sisa-sisanya, dunia ide dan mimpi John Lennon

 

Lalu kami menghilang dalam tata nilai

Lengan merangkul, perlambang keakraban

Tangan menggenggam, sebatas penghangat

Peluk sedikit, namanya juga teman

 

Cinta memang milik mereka yang menang

Selamanya, putusan bersalah untuk yang kalah

Ini, kenakan borgolmu sendiri

Selamat datang, pendosa

 

Ketidakberartian, perkenalkan ini sahabatmu

Lempari dirinya batu-batu kebencian

Gantung lehernya di tiang ketakutan

Bidik hatinya dengan senapan prasangka

 

Oh Jayabaya, telah kau ramalkankah nestapa ini?

 

Karena pagi itu, lintang waluku tidak muncul

Terjaga di bawah langit selatan, kami saling tuduh

Siapa yang kuat, pahit betul rasanya kejujuran

Siapa yang lemah, tata nilai bersulang merayakannya

 

(Jakarta tidak pernah lebih sinis, 26 Agustus 2012)

Bagian Satu #4

(Previous)

Banyak perubahan terjadi selepas dunia memasuki gerbang abad ke-20. Epidemi kolera yang menyerang Filipina mulai mereda. Fosil Tyrannosaurus rex ditemukan seorang paleontologis di Hell Creek, Montana. Australia menjadi negara persemakmuran. Subway kota New York diresmikan. Patung The Thinker karya pemahat Auguste Rodin dipamerkan di London dan Paris. Cina bergabung dalam Palang Merah Internasional. Mahatma Gandhi mendirikan rumah sakit darurat untuk korban wabah bubonic di Johannesburg. Max Planck memformulasikan teori kuantum. Sully Prudhomme meraih penghargaan Nobel pertama di bidang sastra. Ratu Wilhelmina dari Belanda mengumumkan penerapan politik etis untuk kesejahteraan kaum pribumi di daerah kolonial Hindia Belanda.

Keputusan itu bukannya datang begitu saja seperti jatuhnya buah apel yang memantik teori gravitasi keluar dari benak Isaac Newton. Seorang juris berkebangsaan Belanda bernama Conrad Theodor van Deventer menulis sebuah esai berjudul Een Eereschuld—utang kehormatan—yang dimuat di majalah De Gids. Melalui esai tersebut, van Deventer mengklaim bahwa pembangunan negeri Belanda yang sudah sedemikian mapan—di antaranya kereta api dan bendungan—ternyata diperoleh dari hasil kolonialisasi selama berabad-abad. Sementara itu, kaum pribumi Hindia Belanda hidup dengan kemiskinan dan keterbelakangan yang tak terperikan. Untuk itu, pemerintah Belanda perlu membalas budi kaum pribumi Hindia Belanda.

Politik etis—demikian konsep balas budi itu kemudian dinamakan—dilakukan dengan menyejahterakan pribumi dalam tiga bidang: transmigrasi, imigrasi, dan edukasi. Pada akhirnya, penerapan politik etis memang tidak lepas dari kepentingan politik. Program transmigrasi dan imigrasi mengalami kegagalan. Hanya program edukasi yang membawa sedikit lebih banyak dampak, meski memang pribumi disekolahkan hanya agar ketika lulus nanti mereka dapat dipakai sebagai pekerja rendahan yang mampu membaca, menulis, dan berhitung.

Helene van Rees baru berusia dua puluh tahun. Ijazah kelulusan sekolah keguruan Amsterdam belum lama diterimanya ketika ia ditawari posisi sebagai guru di Batavia. Pelayaran pertama dijalaninya. Kapal uap melewati Laut Mediterania, Terusan Suez, Laut Merah, dan lepas ke Samudera Hindia yang penuh perebutan. Badai dan penyakit laut tidak meruntuhkan semangatnya. Helene menjadi calon guru perempuan satu-satunya setelah seorang calon guru perempuan lain meninggal karena kolera dan harus dibuang ke laut.

Helene tiba di Pelabuhan Tanjung Priok pada suatu pagi yang cerah di tahun 1903. Perempuan muda ini terkagum-kagum dengan segala hal: aroma laut tropis yang menyengat; iklim pesisir yang panas; hiruk-pikuk pelabuhan; orang-orang Jawa, Tionghoa, Bugis, Bali, semua dengan pakaian kebangsaan masing-masing; kanal-kanal Batavia yang diadaptasi dari sistem kanal Amsterdam; buah-buahan tropis dan kejenakaan anak-anak pribumi. Hingga pada akhirnya Helene ditempatkan pada sebuah sekolah dasar dan menyadari betapa pendidikan bagi anak-anak kulit berwarna adalah sesuatu yang sangat langka, sebuah fakta yang menyedihkan sekaligus menyulut semangatnya.

Suatu ketika ia menerima surat yang diantarkan langsung dari kantor Gubernur Jenderal J. B. van Heutsz. Helene mengetahui bahwa van Heutsz ialah mantan komando militer yang baru memenangi Perang Aceh, baru saja diangkat menjadi gubernur jenderal. Hal itu membuat Helene bergidik. Ia tidak ingin dilibatkan dalam dunia kemiliteran. Namun surat itu tak lain adalah instruksi pemindahan Helene ke sebuah kota terpencil di pedalaman Jawa. Ia terbelalak ketika membaca posisi yang ditugaskan—bukan ditawarkan—kepadanya: kepala sekolah!

Maka tibalah Helene di Muntilan, sebuah kota kecil yang dilintasi rel kereta api dari kota keraton Yogyakarta ke Magelang. Hanya ada sawah, perkebunan tebu, pohon kelapa, hutan jati dan beringin, sungai, jembatan gantung, orang-orang Jawa, sekolah Katolik asuhan Pastor Van Lith, dan pemukiman Belanda. Lebih dari itu, Muntilan adalah kota sunyi yang dikelilingi oleh Gunung Merapi, Gunung Merbabu, dan Pegunungan Menoreh—tidak jauh letaknya dari sebuah candi raksasa Borobudur yang sedang dipugar.

Pertengahan tahun 1905. Helene van Rees ditempatkan di sebuah sekolah di atas bukit. Bangunannya masih baru. Wangi pelitur tercium dari meja dan kursi yang tertata rapi di ruang kelas. Jendela kaca bening berukuran besar mengizinkan cahaya masuk, terutama ketika Helene membuka tirai di ruang kerjanya, ruang kepala sekolah.

Helene dibantu oleh guru Belanda kelahiran Semarang, Pieter, dan seorang pembantu dari dusun di barat Magelang, Roekijem. Ketika hari pertama tiba, dua puluh anak berbagai bangsa datang, sebagian bersama orang tua mereka. Betapa gembiranya Helene. Anak-anak Belanda, Jawa, Tionghoa, mereka duduk cemas di kelas utama. Tidak lebih tidak kurang, mereka hanyalah anak-anak manusia yang perlu diajari membaca, menulis, dan berhitung. Demikian Helene selalu berpikir.

Meskipun begitu, tidak semua anak kulit berwarna bisa bersekolah di ELS Moentilan. Hanya mereka yang orang tuanya memiliki jabatan tertentu di pemerintahan yang boleh bersekolah.

Tahun 1905 merupakan tahun ajaran pertama di ELS Moentilan. Dua puluhan murid adalah awal yang baik. Sesuai dengan kurikulum yang disepakati, jenjang sekolah dasar berlangsung selama tujuh tahun. Helene dan Pieter mengajar secara bergantian. Helene lebih sering mengajarkan baca tulis dalam bahasa Belanda, sedangkan Pieter ilmu hitung.

Terkadang Roekijem diperbantukan untuk anak-anak Jawa yang mengalami kesulitan karena perbedaan bahasa. Helene tidak dapat berbahasa Jawa. Sebaliknya, Roekijem tidak dapat berbahasa Belanda. Pieter—yang sepanjang hidupnya tidak pernah meninggalkan Hindia Belanda—awalnya menjadi perantara bagi kedua perempuan ini, namun seiring berjalannya waktu Pieter dapat kembali disibukkan dengan urusan ilmu hitung sementara Helene dan Roekijem mulai belajar untuk saling mengerti, meski dengan bahasa tangan sekalipun.

Pengikutsertaan anak-anak pribumi dalam pendidikan formal yang disetarakan dengan anak-anak Belanda ternyata membawa permasalahan sendiri, terutama karena kendala bahasa. Terjadi penurunan pencapaian akademik yang mengecewakan. Dengan demikian pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk membersihkan sekolah-sekolah kolonial dari murid pribumi, mereka ditempatkan di sekolah-sekolah pribumi.

Ketika perintah sampai di ELS Moentilan, Helene dengan tegas menolaknya. Baginya, kastanisasi yang menyebabkan hanya anak pribumi kaya saja yang dapat bersekolah sudah cukup membuatnya miris hati. Suatu pagi setelah duduk bersama Pieter dan Roekijem di ruang kepala sekolah, Helene membuat keputusan. ELS Moentilan harus terbuka untuk semua anak tanpa memandang laki-laki atau perempuan, status ekonomi, status politik, agama, maupun suku bangsa. Lagipula Muntilan adalah kota kecil, perubahan semacam itu bukanlah sesuatu yang menggegerkan, pikir Helene, namun itu adalah langkah besar.

Helene, Pieter, dan Roekijem—yang hanya berstatus sebagai pembantu namun kemudian diangkat menjadi guru bantu sukarela—kewalahan pada tahun-tahun pertama sekolah mereka terbuka untuk umum. Ruangan kelas ternyata tidak cukup. Anak-anak ada yang harus belajar di serambi, di ruang tengah, di pekarangan belakang. Helene mengatur jam sekolah sehingga ada kelas pagi dan kelas siang. Helene meminta tambahan guru bantu dari Batavia, maka dikirimlah seorang lulusan sekolah keguruan Batavia bernama Jan.

Namun ternyata Jan tidak hanya memfungsikan kedatangannya untuk membantu ELS Moentilan, tetapi juga menjadi informan bagi kontrolir Muntilan yang mulai menaruh curiga kepada sekolah dasar itu. Suatu ketika kontrolir Muntilan marah besar ketika tahu bahwa Helene tidak mengusir Pribumi dari sekolahnya. Helene mendapat ancaman pembubaran, tetapi ia bergeming. Kekuatan pendiriannya didukung oleh segenap pengajar—kecuali Jan, tentu saja, karena Helene memberhentikannya segera—murid, dan keluarga mereka. Karena status kewarganegaraan Belanda yang Helene miliki, dan karena surat penugasan Helene yang bertandatangan gubernur jenderal Hindia Belanda sendiri, kontrolir Muntilan tidak dapat berbuat banyak.

Di luar kehidupan sekolah, Helene van Rees bertemu dengan Raden Soerjadikromo, seorang bangsawan dari Yogyakarta. Mereka ingin ELS Moentilan tidak dilupakan. Mereka mempunyai mimpi agar suatu hari nanti, ELS Moentilan—dengan segala keterbukaannya terhadap anak semua bangsa—dapat menjadi percontohan di mana-mana. Pendidikan adalah hal yang paling hakiki untuk memerdekakan manusia. Apalah arti politik etis jika pada akhirnya pendidikan hanya untuk kalangan atas? Adalah sia-sia jika Hindia Belanda punya banyak sekolah namun tidak semua anak dapat mengenyamnya.

Adalah sia-sia jika Hindia Belanda punya banyak sekolah, namun tak ada yang berani memutus rantai penindasan.

Helene dan Raden Soerjadikromo sama-sama memiliki kecintaan terhadap dunia anak-anak dan pendidikan. Lebih dari itu, keduanya memiliki kecintaan terhadap satu sama lain. Seorang guru Belanda dan seorang bangsawan Jawa. Mereka pergi ke gereja pada suatu pagi dan mengikat janji sehidup semati.

Kami  berhenti di situ. Mevrouw Oosterheerd kembali mengisi cangkir tehnya, menunggu jika ada sesuatu yang ingin kutanggapi.

Aku berhenti menulis. Berhenti berpikir. “Apa yang baru saja Anda ceritakan tadi sangat mengagumkan bagi saya, Mevrouw. Di luar itu, saya tidak bisa berkomentar apa-apa lagi. Sungguh.”

“Ayo. Tanyalah sesuatu. Kamu kan jurnalis?”

Sebenarnya ada. “Ah, ya. Bagaimana Anda bisa mengingat semuanya dengan begitu detail, Mevrouw?”

“Seperti yang saya katakan tadi, saya belum lahir ketika itu. Dan, tidak, saya bukan pengingat yang baik,” katanya sambil menunduk, membuka laci, dan mengangkat sesuatu berbungkus kain beludru kecoklatan. Ketika Mevrouw Oosterheerd menyingkapnya, jelaslah bagiku kalau itu sebuah buku. Buku yang sangat tua. “Mama menulis semuanya dalam buku harian. Kutemukan buku ini di antara benda-benda yang diwasiatkannya padaku.”

Aku tertegun memandang buku itu. Mevrouw Oosterheerd mengijinkanku memegangnya, tetapi aku hanya menyentuh sampul yang sudah kelupas. Aku tak berani mengangkatnya. Keadaannya pasti sudah sangat rapuh. “Ini adalah sejarah, Mevrouw,” gumamku kagum.

Kita adalah sejarah, Nak,” ucapnya sambil mengangguk. “Nah, saya lanjutkan lagi?”

“Dengan senang hati, Mevrouw.”

“Pada tahun 1912, seperti yang kamu tahu, kapsul waktu dibuat. Saya akan lompati bagian ini karena nanti kamu akan dengar sendiri.”

Kontrolir Muntilan sudah tidak menganggu lagi. Kota kecil itu hidup damai dengan segenap kebersahajaannya. ELS Moentilan tetap dengan hiruk-pikuknya di atas bukit.

Rutinitas itu berlangsung cukup lama hingga suatu ketika di tahun 1930 alam mulai tidak ramah. Muntilan memang sering digetar oleh gempa kecil karena letaknya yang berdekatan dengan Gunung Merapi, namun pada hari itu getarannya sangat kuat. Bumi nampaknya sudah tidak kuat menahan tenaga yang begitu besar sehingga pada 25 November 1930 Gunung Merapi meletus. Penduduk Muntilan, tak terkecuali Helene, Raden Soerjadikromo, dan para guru, dibawa ke pengungsian. Dalam hujan abu, mereka bergerak ke arah selatan, meninggalkan kota kecil Muntilan yang menjadi sasaran terjangan abu panas. Lebih dari 1300 orang meninggal. Itu adalah jumlah terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah letusan Gunung Merapi.

Enam bulan kemudian, ketika langit sudah bebas dari abu, mereka kembali ke ELS Moentilan. Mereka harus memulai dari awal lagi, dalam hal ini berarti bangunan harus dibetulkan kembali, buku-buku harus dibeli lagi, kursi meja dipesan lagi. Jumlah murid berkurang, sebagian karena keluarganya pindah, sebagian karena beristirahat di pekuburan masal. Kota Muntilan semakin sepi.

Ada satu yang tidak kembali. Tidak pula dimakamkan di pekuburan masal. Helene sudah menghabiskan dua tahun mencari keberadaan Raden Soerjadikromo ketika suatu hari ia menerima selembar salinan manifes kapal uap yang berangkat dari Surabaya ke Suriname, sebuah wilayah kolonialisasi Belanda di Amerika Selatan. Nama suaminya tertera di sana.

Helene tak bisa berpikir jernih. Banyak pribumi diangkut ke Suriname untuk menjadi buruh migran setelah letusan Merapi. Tetapi mengapa harus Raden Soerjadikromo, hanya satu orang yang tahu jawabannya. Helene mendatangi kantor kontrolir Muntilan. Mencari pria licik yang dengan kekuasaannya bisa membuat hal itu terjadi. Tetapi sang kontrolir sudah lepas jabatan dan pergi ke Belanda. Hatinya hancur seketika. Kemarahannya memuncak, tetapi ia tak tahu ingin marah pada siapa. Ia ragu apakah kemarahannya akan menjadi sesuatu yang penting. Helene diam. Dalam diamnya ia membangun kembali ELS Moentilan bersama sisa-sisa yang ada.

Pada saat itulah ia datang ke sebuah panti asuhan Katolik dan memutuskan untuk mengadopsi seorang bayi perempuan cantik bernama Jasmijn. Bayi itu dirawatnya seperti anak sendiri. Dan memang anak sendiri. Jasmijn menjadi pelipur bagi hati Helene yang remuk redam. Jasmijn mengembalikan rasa cinta kasih Helene yang selama itu tersaput awan duka kehilangan.

Jepang menyerang Hindia Belanda pada tahun 1942. Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang yang langsung mengambil alih semua kekuasaan di Hindia, termasuk di dalamnya adalah gedung-gedung, alam, dan manusianya.

ELS Moentilan kembali harus menyerahkan nasib kepada pergulatan jaman. Gedung sekolah itu digunakan sebagai gudang persenjataan. Kota Muntilan dijadikan markas tentara sekaligus lokasi tahanan politik Jepang. Orang-orang Belanda dan Jawa sama-sama berada pada titik yang tidak aman. Helene, si kecil Jasmijn yang baru berusia 9 tahun, Pieter, dan orang-orang Belanda lainnya diangkut ke sebuah asrama Katolik yang sudah dialihfungsikan menjadi rumah tahanan.

Helene dan anaknya kehilangan wewenang atas dirinya ketika status kebelandaannya tidak dapat membantu sedikitpun. Bagi penguasa, mereka adalah tawanan perang. Mereka dipindahkan dari satu rumah tahanan ke rumah tahanan lain. Dari satu kota ke kota lain. Hingga pada suatu hari mereka dibebaskan dan ditinggal di pinggir tembok kota Jakarta. Keesokan harinya, tanpa membawa apapun kecuali sebuntal kain pakaian dan buku jurnal, Helene dan Jasmijn dikapalkan ke Belanda.

Ketika perang sudah usai, Helene memberanikan diri mencari Raden Soerjadikromo ke Suriname. Pasangan hidupnya itu tidak ada di mana-mana. Bahkan, menurut kabar, kapal yang berangkat dari Surabaya pada tahun 1933 tidak pernah tiba di Suriname melainkan tenggelam di lepas pantai karena menabrak karang. Lagi-lagi pekuburan masal yang harus Helene temui. Namun kali ini ia tidak yakin betul apakah jasad Soerjadikromo benar-benar dikubur di situ, atau ternyata tidak pernah ditemukan sama sekali, hanyut ke tengah samudera yang tidak hanya membunuh suaminya, tetapi juga mimpi-mimpinya.

“Mama pulang ke Belanda satu bulan kemudian dengan membawa kabar yang tidak lebih buruk. Hanya saja pilu,” ujar Mevrouw Oosterheerd. “Mama tidak pernah menikah lagi sejak saat itu. Namun ia masih menjalin hubungan baik—hubungan persaudaraan—dengan Pieter Oosterheerd. Anaknya kemudian dinikahkan denganku. Ya, hidup kami biasa-biasa saja setelah itu. Mama menjalani masa tua dan meninggal dengan tenang pada suatu pagi di Amsterdam.

“Mama tidak pernah cerita banyak tentang masa lalunya, tetapi buku ini lebih dari cukup. Dan dari buku ini pula aku tahu Mama dan Raden Soerjadikrama mengubur kotak besi di pekarangan belakang. Kini semua orang menjululiknya kapsul waktu, padahal dulu Mama dan Raden Soerjadikrama menamakannya De Doos van Hoop. Kotak Harapan,” kata Mevrouw Oosterheerd sambil terkekeh.

Aku menyelesaikan catatan kecilku ketika Soleh mengetuk pintu. “Bapak-bapak dari Dinas Purbakala sudah datang, Mevrouw. Bagaimana?”

“Ah, ya. Suruh mereka masuk, Soleh,” jawab Mevrouw Oosterheerd cepat.

Dengan begitu, aku minta diri untuk berjalan-jalan menikmati lingkungan sekitar ELS Moentilan. Aku keluar lewat teras yang langsung menuju ke pekarangan belakang di mana pemuda-pemudi Pramuka telah menyelesaikan tugasnya dengan rapi. Jurnalis sudah mulai berdatangan, sebagian dari mereka duduk di kursi yang disediakan untuk press release, sedangkan sebagian lagi membuat liputan di sudut-sudut strategis.

Mevrouw Oosterheerd memanggilku dari teras. “Saya belum selesai,” serunya. “Nanti kita lanjutkan lagi, ya?”


(Next)

Bagian Satu #3

(Previous)

Seorang anak laki-laki berseragam Pramuka berdiri tanggung di samping papan kayu tua berukirkan EUROPEESCHE LAGERE SCHOOL MOENTILAN. Sekolah Dasar Eropa Muntilan. Aku berjalan pelan-pelan dari kejauhan, kedua kakiku berusaha berdamai dengan jalan setapak batu yang menanjak. Keretaku berhenti di Stasiun Tugu, Kota Yogyakarta, sekitar 25 kilometer jauhnya dari Muntilan. Dari situ kutemui Harlan, teman SD yang kini sedang kuliah di Universitas Gajah Mada. Dia memberiku sarapan gratis di warung belakang stasiun. Kami berbicara soal indeks prestasi (satu topik yang paling kuhindari), cuaca ibukota, lengangnya lalulintas di Yogyakarta, dan ketidaksukaanku terhadap organisasi masyarakat berbasis agama yang belakangan ini semakin merasa berdaulat. Ketika aku merogoh saku untuk membayar, Harlan mencegah. “Biar aku saja. Nanti kamu ganti kalau sudah jadi jurnalis sungguhan,” gumamnya sembari melempar senyuman sinis. Anak bodoh, aku sekarang jurnalis sungguhan.

Selesai sarapan, Harlan menjelaskan rute paling efisien untuk mencapai Muntilan. Wisatawan yang hendak mengunjungi Candi Borobudur dari arah Yogyakarta pasti melewati Muntilan, sebab Muntilan memang jalur utama menuju ke sana. Dengan demikian, tidak sulit mencari kendaraan. Aku pergi ke Terminal Jombor, kunaiki bus yang kali pertama kudengar menyerukan nama candi Buddha terbesar di dunia itu.

Sepanjang perjalanan, mataku terbeliak melihat batu-batu besar—yang tidak pada tempatnya—tergolek di sisi kiri dan kanan jalan. Ada tenda-tenda sederhana tempat tukang pemecah batu berteduh. Lembah dan bukit pasir menjadi pemandangan selanjutnya, sebelum bus melewati deretan pertokoan yang menjual stupa dan arca Buddha. “Gunung Merapi”, kata seorang perempuan paruh baya yang duduk di sampingku, menyadari ketidakbiasaanku terhadap pemandangan di luar jendela. Dua tahun lalu Gunung Merapi meletus. Kali itu letusannya memang cukup besar hingga kota Yogyakarta pun mati. Menurut berita, juru kunci Gunung Merapi—seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta yang telah ditunjuk bertahun-tahun lamanya—turut menjemput ajal di sana.

Kucoba membayangkan bagaimana suasana ketika itu. Mungkin mirip dokudrama Krakatoa: The Last Days buatan BBC? Tanpa tsunami, tentu saja. Mungkin sinar matahari terhalang selama beberapa minggu, sementara debu vulkanik yang mengandung silika berjatuhan dari langit. Seperti salju, hanya saja zat ini merusak paru-paru dan kornea mata. Kemudian pohon-pohon mati, daunnya merunduk ke tanah. Atap rumah runtuh karena tak kuat menahan beban debu. Jembatan putus. Sungai diluapkan lahar dingin. Bebatuan segala ukuran menggelinding di lereng, banyak rumah yang rata dengan tanah karenanya. Di kamp pengungsian, orang-orang harus bernapas menggunakan masker, sementara air bersih sama langkanya dengan pasokan listrik ketika malam tiba. Dalam situasi seperti itu, kurasa status dan peran sudah membaur dalam ketidakbergunaan. Barangkali konstruksi gender juga tidak ada artinya lagi. Semua kembali ke pemenuhan kebutuhan paling dasar yang diajarkan oleh moyang kita: bertahan hidup.

Turun di pinggir jalan besar, aku menyusuri toko-toko cinderamata hingga menemukan seseorang untuk bertanya. Aku berbelok ke jalan yang lebih kecil, menyeberangi rel kereta api tua yang sudah tidak digunakan lagi, melewati sebuah pedukuhan di belakang hiruk-pikuk pasar induk. Seperempat jam kemudian, setelah keluar dari hutan karet yang pohonnya tertanam lurus berbaris mengiringi jalan setapak, aku tiba di persawahan. Kehijauan yang berundak-undak ini mengagumkanku. Matahari menggantung hangat di sisi timur. Di bawahnya ada geligi gunung, seolah menjadi pagar sejauh mana sawah ini menghampar. Seorang petani dan kerbaunya bergerak menjauhi saung bambu, figur mereka lebih menyerupai siluet yang diabadikan dalam lukisan pematang sawah bergaya pointilisme bagiku. Suara gemericik air menarik perhatianku, begitu juga kilauan embun di puncak lengkungan daun padi, juga suara kicauan burung-burung sawah yang kehadirannya sudah diantisipasi oleh boneka jerami bercaping.

Jalan batu kemudian mulai menanjak. Dan di sinilah aku berada. Semakin dekat ke puncak bukit. Anak laki-laki berseragam Pramuka itu terlihat semakin jelas. Ia tersenyum. Kutunjukkan kartu pers kepadanya. Tanpa banyak cakap ia mengajakku masuk ke dalam. Namun ketika ia mulai berjalan, aku masih terpaku di tempatku berada. Mataku tidak bisa tidak memindai bangunan besar yang menurutku terlalu bagus untuk ukuran gedung sekolah dasar.

Europeesche Lagere School Moentilan—mulai sekarang akan kusingkat menjadi ELS Moentilan—terdiri dari bangunan berlantai dua yang dijejeri jendela berventilasi tinggi. Sebagian jendela sudah tidak berkaca lagi, menyisakan kerangka besi yang ditutup oleh tirai plastik. Dinding bangunan terbuat dari batu bata dicat putih, tentu kini sudah kecoklatan karena termakan usia. Serambinya terbuat dari kayu papan, mengelilingi sisi depan, samping, dan belakang bangunan. Tidak lupa atap yang tersusun dari genteng berwarna gelap disangga pilar-pilar ramping yang ditumbuhi tanaman rambat, sebuah versi bersahaja dari bangunan bergaya neoclassic. Jalan setapak sempit berkerikil menjadi penghubung antara pagar dengan pintu masuk. Di sebelah kiri, sebuah pohon oak tua dengan bentuk seperti payung raksasa menciptakan bayangan temaram di pekarangan yang ditumbuhi alang-alang. Di sudut lain pekarangan terdapat semak-belukar dan sejumlah palem liar. Tempat ini memang sudah sejak lama ditinggalkan, vegetasi yang tumbuh tanpa kendali cukup menjadi bukti. Namun megahnya bangunan dan letaknya yang tidak biasa—di puncak bukit yang dikelilingi pematang sawah—membuatku merasa ini bukan sembarang tempat. ELS Moentilan mestilah merupakan sesuatu di masa lalu.

Anak Pramuka menungguiku di ambang pintu. Kemudian kami masuk bersama. Ruang tengah yang—sesuai dugaanku—cukup besar ternyata tidak diisi apa-apa. Hanya ada sebidang lantai marmer dan beberapa perancah besi di sudut ruangan beserta tirai plastik yang menutupi furnitur tua. Ruangan ini sedang dalam renovasi, pikirku. Kami berjalan memasuki koridor kanan dan tiba di sebuah ruang kerja yang hanya terdiri dari sebuah meja kerja dan rak buku kosong. Seorang perempuan tua bertubuh mungil berdiri menghadap pekarangan, menjepit gagang telepon di antara pundak dan kepalanya, sementara tangannya sibuk menulis sesuatu.

Mevrouw, we’ve got our first journalist,” ujar si anak Pramuka. Aku terkejut dengan kefasihannya berbahasa Inggris.

Ah, come in, please,” jawab perempuan itu. Kemudian ia menutup teleponnya, berbalik badan, dan berjalan ke arah kami. Ia tersenyum ramah padaku. Tangannya membelai kepala anak Pramuka. “Terima kasih, Soleh.”

“Sama-sama, Mevrouw!” ujarnya, kemudian ia pamit pergi.

Een scout lacht en fluit onder alle omstandigheden,” gumam sang Mevrouw sambil melirik padaku. “Seorang Pramuka selalu tersenyum dan meniup peluit dalam situasi apapun, begitu kata Robert Baden-Powell.”

Aku mengangguk. Kuperkenalkan diriku sambil menunjukkan kartu pers, satu hal yang entah mengapa membuatku merasa sebagai jurnalis sungguhan. Lagipula aku memang jurnalis sungguhan! Kalau tidak, aku takkan pergi sejauh ini.

“Jasmijn Oosterheerd. Saya ahli waris rumah ini,” katanya memperkenalkan diri dalam bahasa Indonesia yang jelas. “Secara de jure, tanah ini punya pemerintah. Tetapi saya selalu merasa ini rumah saya, sekolah saya. De facto. Ayo, silakan duduk. Teh?”

Aku agak segan. Namun menolak keramah-tamahan bukanlah awal yang baik, jadi kuterima tawarannya. Mevrouw Oosterheerd adalah seorang perempuan Belanda yang ramah. Usianya mungkin sekitar tujuh puluhan akhir. Langkahnya pelan dan bersahaja. Rambutnya yang telah memutih digelung seperti gadis Jawa. Ia memakai kebaya putih yang disesuaikan dengan tubuhnya mungilnya, lengkap dengan kain jarik sebagai bawahan.

Tidak lama, Mevrouw Oosterheerd kembali dengan nampan berisi poci teh dan dua cangkir porselen. Aku merasa seperti tamu kehormatan di rumah aristokrat Hindia Belanda. Setelah kedua cangkir diisi penuh olehnya, aku mengucapkan terima kasih dan kami berdua menyesap teh bersama-sama.

“Jadi, Periskop, majalah apa itu?” tanyanya.

Periskop adalah majalah ilmiah populer, Mevrouw,” jelasku. “Kami terbit sebulan sekali. Majalah kami sudah berskala nasional, namun mungkin hanya sebatas tersedia di toko buku dan gerai di ibukota provinsi.”

Mevrouw Oosterheerd mengangguk. “Kamu cukup muda untuk menjadi jurnalis.”

Aku sedikit tersipu. “Mevrouw tidak tahu, sekarang banyak jurnalis muda bekerja di media-media nasional. Kebanyakan memang masih berstatus sebagai volunteer, tetapi jika kinerja mereka baik, mereka akan mampu diangkat sebagai kontributor tetap, dan kemudian jadi jurnalis resmi.”

Mereka itu sebenarnya aku, dengan segala pengharapanku.

“Saya senang mendengarnya. Kamu adalah jurnalis pertama yang datang ke sini, saya sangat mengucapkan terima kasih. Memang sudah saatnya orang-orang di luar sana tahu apa yang tersimpan di Muntilan ini.”

“Anda tidak perlu berterima kasih, Mevrouw, memang inilah pekerjaan kami,” jawabku sambil tersenyum. Di ruang kerja terdapat teras terbuka yang langsung terhubung ke pekarangan belakang. Pohon-pohon besar menjadi batas pekarangan itu. Rumputnya hijau, rapi terpangkas, tidak seperti di pekarangan depan. Ada lebih banyak anak Pramuka di sana, namun mereka lebih besar dari Soleh. Mereka berjalan hilir-mudik, mengatur kursi dan melapisi meja dengan kain putih, mendirikan tiang-tiang tenda. “Apa yang anak-anak Pramuka lakukan di pekarangan, Mevrouw?”

“Ah. Tentu kamu tahu hari ini hari penggalian kapsul waktu, bukan? Siang nanti akan ada lebih banyak orang datang kemari. Pemerintah, peneliti, akademisi, pelajar, orang-orang desa, dan jurnalis—sepertimu. Akan ada press release tentang pengangkatan kapsul waktu, sekaligus memamerkan benda-benda apa saja yang ada di sana sebelum nanti sore kami tutup kembali untuk dibawa ke Dinas Purbakala, sesuai kesepakatan. Kami juga akan mengumumkan rencana pemerintah Belanda mendanai tempat ini, atas nama keluarga kami, untuk dipugar menjadi museum. Sejauh ini beberapa tahap renovasi sudah dilakukan.

“Hari ini hari besar, namun tidak ada tenaga yang dapat membantu. Saya sendiri sudah di Muntilan sejak tiga bulan lalu. Memang, kelompok peneliti menaruh perhatian besar terhadap kapsul waktu, namun mereka tidak peduli dengan persoalan sepele seperti ini. Untung saja saya menjalin komunikasi yang baik dengan keraton, mereka mengirim anak-anak Pramuka dari kota untuk membantuku. Ah, Pramuka. Mereka memang penuh kebajikan dan semangat. Mereka sudah ada di sini sejak kemarin malam. Sore nanti mereka akan kembali ke Yogyakarta. Kami harus berpisah. Saya pasti akan merindukan Soleh,” katanya sambil terkekeh.

Aku merasa beruntung bisa datang sepagi ini. Aku punya lebih banyak waktu untuk bercakap-cakap dengan Mevrouw Oosterheerd. Bayangkan jika aku baru datang nanti siang, mungkin aku hanya akan di pekarangan mencatat press release sama seperti jurnalis lainnya. Beruntung, sangat beruntung.

Mevrouw Oosterheerd meneguk tehnya, kemudian balik bertanya, “sudah berapa lama di Muntilan?”

“Ini baru tiba, Mevrouw. Semalam berangkat dari Jakarta, tadi subuh tiba di Yogyakarta, langsung ke sini.”

“Kali pertama ke Muntilan?”

Aku mengangguk. “Ya, Mevrouw.”

“Bagaimana Muntilan, menurutmu?”

Aku teringat kembali pematang sawah dengan segala keindahannya di kaki bukit tadi. “Muntilan sangat cantik. Sejuk. Cukup lengang—kecuali di pasar. Aku kagum bagaimana di kota kecamatan kecil yang asri dan bersahaja seperti ini ternyata pernah ada sejarah kolonialisme. Bukti bahwa di sini pernah dibangun ELS menandakan bahwa Muntilan bukan sembarang tempat bagi pemerintah Hindia Belanda. Benar begitu, Mevrouw?”

“Saya memang bukan ahli sejarah, tapi saya hidup dalam sejarah,” ujarnya bangga. “Dan ya, kamu benar. Muntilan bukan kota biasa. Mama saya, Helene van Rees—nanti kamu akan tahu lebih banyak tentangnya—selalu mengatakan bahwa awal abad 19 adalah permulaan dari Muntilan. Dulu banyak orang Tionghoa tinggal di sini. Frans van Lith, seorang pastur dari Oirschot, kemudian datang pada akhir abad 19. Van Lith membangun komunitas umat Katolik pribumi pertama di Jawa. Ia membangun gereja, rumah sakit, asrama, dan sekolah,” Mevrouw Oosterheerd terhenti di situ. Kemudian ia berujar lirih pada dirinya sendiri, “sekolah yang didirikan Pastur van Lith beruntung, masih berdiri sampai sekarang.”

Kubiarkan Mevrouw Oosterheerd menekur dalam kesunyian selama beberapa saat. Jika ELS Moentilan masih bertahan, tentu keadaan akan jauh berubah. Ruangan manis ini barangkali adalah ruang kepala sekolah. Pekarangan di depan akan rapi, mungkin dengan parkiran sepeda. Pekarangan belakang akan dialihfungsikan menjadi kantin dengan air mancur. Jendela-jendela tinggi masih utuh. Ruang kelas penuh dengan meja dan kursi tempat anak-anak Muntilan mengisi hari. Ruang guru akan penuh percakapan akademis. Ruang utama yang berlantai marmer itu—selain menjadi meja resepsi—mungkin juga menjadi loket lost-and-found. Khayalanku buyar saat Mevrouw Oosterheerd mengangguk untuk melanjutkan.

“Pada tahun 1900, Muntilan ditempati oleh pejabat Belanda berpangkat kontrolir. Kukira pembangunan mulai dilakukan sejak saat itu. Jalur kereta yang menghubungkan Yogyakarta dengan Magelang dibangun melewati Muntilan. Perkebunan tebu dibuka. Belanda memiliki sebagian besar tanah.

“Sementara itu, bukit ini hanyalah hutan beringin. Tidak ada yang berani membuka lahan di sini karena hal itu dipercayai akan membawa petaka. Tidak baik mengusir penunggu hutan beringin. Namun pemerintah tetap saja membebaskan lahan ini untuk dijadikan sekolah. Tidak ada kejadian buruk terjadi setelahnya. Kecuali, ya—sekolah ini tidak pernah bertahan begitu lama. Tetapi kami mengalami masa-masa yang sangat indah di ELS Moentilan, aku berani katakan itu.”

Aku mengangguk. Kedua cangkir kami telah kosong. Kuambil poci teh yang isinya tinggal setengah. Kutawarkan Mevrouw Oosterheerd untuk kuisikan cangkirnya, ia tidak menolak. Setelah menyesap sekali, aku bertanya, “jadi, tahun berapa ELS Moentilan berdiri, Mevrouw?”

Mevrouw Oosterheerd memejamkan matanya, berusaha mengingat. “Dibangun pada 1904, mulai dibuka pada Juli 1905. Saya belum lahir pada saat itu, tetapi Mama selalu menceritakannya dengan bangga. Bukan bangga pada dirinya yang ketika itu diutus langsung oleh gubernur jenderal untuk menjadi kepala sekolah, tetapi karena sejak hari pertama kegiatan belajar-mengajar diadakan, kami tak pernah memisahkan antara murid Eropa dengan murid Pribumi.”

Kulihat senyum bangga juga merekah pada bibir tipis Mevrouw Oosterheerd. Ada banyak hal yang bisa kugali dari sini, tetapi rasa penasaranku akan kapsul waktu ternyata meluap kembali. Kucoba alihkan pembicaraan. “Tentang kapsul waktu yang ditanam pada tahun 1912, Mevrouw, ba—”

“Jika saya jelaskan kapsul waktu sekarang, saya jamin tidak akan ada bedanya dengan apa yang akan saya sampaikan di press release nanti,” ujarnya lembut. “Jadi, daripada kamu membuang waktu untuk mendengar hal yang sama dua kali, saya akan menceritakan hal lain yang takkan kusinggung nanti. Orang-orang di luar sana tidak tertarik dengan ini. Barangkali tidak penting. Barangkali tidak ada dampak ilmiahnya. Biarlah mereka begitu, tetapi bagi jurnalis muda sepertimu, cerita ini ada baiknya kusampaikan.”

Aku mengangguk paham. Kuajukan beberapa pilihan dalam wawancara kepada Mevrouw Oosterheerd. Menjelaskan hal ini merupakan bagian dari kode etik jurnalistik. Ada tiga pilihan di luar wawancara biasa: Not for attribution, berarti aku boleh mengutip perkataannya tetapi tidak boleh mencantumkan identitasnya; Not to be quoted, berarti aku tidak boleh mengutip langsung apa yang dikatakan oleh narasumber. Di sini kelihaian gaya bahasa dan parafrase seorang jurnalis bermain; Yang terakhir, off the record, berarti baik identitas narasumber maupun informasi yang diberikan tidak boleh kuberitakan sama sekali. Biasanya ini dipakai untuk alasan keselamatan, atau karena menyangkut isu yang sensitif. Aku yakin semua jurnalis menginginkan narasumbernya kooperatif dengan mengizinkan identitas dan informasinya diberitakan penuh. Namun jika seorang narasumber meminta wawancara dilakukan secara off the record—meskipun itu menyakitkan karena berarti tidak ada yang bisa ditulis—ada rasa kebanggaan tersendiri bagi seorang jurnalis. Kepercayaan narasumber untuk menyampaikan informasi secara off the record secara tidak langung berarti pengakuan terhadap integritas si jurnalis itu sendiri.

Tetapi Mevrouw Oosterheerd ternyata hanya menginginkan wawancara biasa. “Kamu datang ke sini jauh-jauh tentu tidak untuk pulang dengan rekaman kosong, bukan? Ayo, keluarkan!”

Kukeluarkan alat perekam dari tas. Apapun yang akan diceritakannya, kini aku sudah siap.

“Tapi,” tangan Mevrouw Oosterheerd menutup mulutnya. “Saya mungkin akan lebih fasih dalam bahasa Belanda—atau bahasa Inggris. Bagaimana?”

“Silakan dalam bahasa apapun yang membuat Mevrouw nyaman.” Kunyalakan alat perekam. Benda hitam seukuran genggaman tangan itu kudekatkan ke mulutku. “Wawancara dengan Jasmijn Oosterheerd, ahli waris ELS Moentilan—“

“Dan calon kurator Museum ELS Moentilan,” tambahnya.

“—sekaligus calon kurator Museum ELS Moentilan berusia—”

“Tujuh puluh sembilan tahun.”

“Berusia tujuh puluh sembilan tahun. Kewarganegaraan Belanda. Selasa, 10 April 2012, pukul 9.34 pagi waktu Indonesia barat. Lokasi: Europeesche Lagere School Moentilan, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Topik—”

“Tentang sekolah ini, dan tentang mama saya, Helene van Rees.”

Kurasa suara Mevrouw Oosterheerd sudah cukup terdengar sehingga tak perlu lagi kuulangi. Alat perekam kuletakkan di atas meja. Sebuah buku dan pensil untuk mencatat poin-poin penting telah siap. Aku sedang menggambar angka ‘1905’ ketika Mevrouw Oosterheerd mulai menuturkan kisahnya dalam bahasa Inggris.

(Next)